Mantap! Realisasi UU Tax Amnesty Indonesia Berhasil Lampaui Negara Lain

242
Yustinus Prastowo, Direktur Eksekutif CITA (Center for Indonesia Taxation Analysis).
loading...

Kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) yang sedang berjalan dinilai lebih baik dibandingkan dengan program serupa di negara lain. Pengamat menilai hal ini seiring dengan nilai deklarasi harta para wajib pajak peserta program yang terbilang tinggi dalam tahap pertama yang berakhir September.

Menurut data Kementerian Keuangan, per 21 September 2016, angka deklarasi harta para peserta program tax amnesty mencapai Rp1.295 triliun, atau sekitar 25 persen dari target pemerintah Rp4.000 triliun. Deklarasi harta tersebut terdiri dari Rp875 triliun deklarasi dari dalam negeri dan Rp349 triliun deklarasi di luar negeri.

Pengamat pajak dan Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Yustinus Prastowo menilai pencapaian tersebut sudah jauh lebih baik daripada kebijakan serupa yang sudah dijalankan di negara lain, seperti Italia. Di beberapa negara, menurutnya, program tax amnesty malahan gagal total.

Yustinus mencatat Italia hanya mampu membuat warganya mendeklarasikan 20 persen dari target program. Dana penduduk Italia diperkirakan mencapai 500 miliar euro, tetapi yang mendeklarasikan hanya 80 miliar euro.

Ia melanjutkan, sebenarnya yang diincar oleh pemerintah melalui program tax amnesty adalah perluasan basis pajak. Angka deklarasi lebih dari Rp1.000 triliun ini menurutnya merupakan kemajuan besar. Jika seluruh jajaran di Direktorat Jenderal Pajak bekerja selama dua bulan terus menerus di luar progam ini pun tidak akan bisa mendapatkan hasil seperti yang dihasilkan tax amnesty.

loading...

“Sebenarnya dana tebusan itu hanya hadiah saja bagi APBN, targetnya itu adalah perluasan basis pajak,” ujarnya di depan wartawan Rabu 21 September 2016.

Walaupun demikian ia mengaku belum puas dengan realisasi dana repatriasi yang baru mencapai Rp71 triliun. Berdasarkan data Ditjen Pajak hingga saat ini dana tebusan tax amnesty telah mencapai Rp36,3 triliun. Angka ini hanya sekitar 22 persen dari target dana tebusan pemerintah sebesar Rp165 triliun.

Yustinus mengatakan, saat ini baru Afrika Selatan dan India yang berhasil menyelenggarakan tax amnesty. Program di Afrika Selatan bisa berhasil karena Nelson Mandela selaku presiden kala itu menjamin peraturan tidak akan berubah dalam 20 tahun ke depan.

Selain itu, Nelson Mandela juga menjamin jika keadaan politik di Afrika Selatan tidak akan berubah dan tetap kondusif. Ia mengatakan setelah tax amnesty, penerimaan pajak Afrika selatan meningkat hingga hampir dua kali lipat.

Sedangkan di India, menurut Yustinus, perluasan wajib pajak juga meningkat dua kali lipat.

Negara-negara yang program pengampunan pajaknya gagal, menurut Yustinus, menganut politik oligarkis atau dikuasai oleh sebagian kecil orang. Para pejabat di negara tersebut mengajak para rakyatnya untuk ikut tax amnesty tetapi mereka sendiri tidak melaporkannya.

“Indonesia itu sebelumnya berpotensi gagal karena yang punya kekuasaan tidak mau ikut tetapi meminta rakyatnya ikut. Tidak ada keteladanan,” ujarnya.

loading...
SHARE