Syamsudin Haris: SBY Provokator Tingkat Tinggi

12884
loading...

Pakar politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menyayangkan pernyataan mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang mendukung unjuk rasa Jumat (4/11). “Saya menyayangkan SBY. Dia sudah menjadi provokator sama seperti pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) keagamaan yang selalu membuat resah masyarakat,” kata Syamsuddin.

Ia mengatakan itu dalam diskusi dengan tema,”Keprihatinan Anak Bangsa Terhadap Ancaman Kebhinekaan” di Jakarta, Kamis (3/11). Selain Syamsuddin tampil sebagai pembicara lain dalam acara yang diselenggarakan Aliansi Masyarakat Peduli Kebangsaan itu adalah pakar politik yang juga wartawan senior Budiarto Shambazy, Bambang Sulistomo, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), Mulyadi Tamsir, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Chrisman Damanik, dan aktivis perempuan, Emmy Hafild.

Syamsuddin mengaku kecewa juga dengan SBY yang mendesak pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) agar memproses Gubernur DKI non aktif, Basuki Tjahaja Purnama secara hukum atas dugaan penistaan agama.

Menurut Syamsuddin, SBY mendesak seperti itu mempunyai kepentingan politik agar anaknya yang menjadi calon Gubernur DKI menang dalam Pilgub nanti. “Dia kan harus tahu penegakkan hukum itu ada prosesnya. Masa SBY tidak tahu kalau Polri sedang memproses kasus itu ? Penegakkan hukum kan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Saya katakan SBY itu provokator,” kata dia.

Syamsuddin menegaskan, kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu sama sekali tidak menodai agama atau Kitab Suci Alquran. “Coba nonton dan dengar rekaman acara itu secara utuh. Saya yakin 95 persen pengunjuk rasa besok (red-tanggal 4 November) tidak menonton dan mendengar acara dan perkataan Ahok secara utuh,” kata dia.

loading...

Syamsuddin menegaskan, adalah tidak mungkin Ahok yang masih menjabat sebagai Gubernur dan ingin menjabat lagi mau menghina agama Islam yang merupakan agama yang dipeluk mayoritas warga Jakarta dan Indonesia. “Saya tegaskan, tuntutan agar Ahok diproses hukum dan harus dihukum adalah sangat berkaitan dengan persaingan rebut DKI 1,” kata dia.

Sementara Emmy Hafild menegaskan, yang berunjuk rasa mendesak Ahok dihukum adalah orang-orang yang dimobilisasi untuk menyeret agama dalam politik untuk kepentingan orang tertentu atau kelompok tertentu. Ia meminta seluruh rakyat Indonesia baik muslim maupun nonmuslim tidak perlu takut dengan orang-orang yang membajak agama untuk kepentingannya ini. “Mari kita bersama Polri dan TNI lawan mereka. Jangan takut demi Indonesia yang plural dan aman serta nyaman,” kata dia.

Sedangkan Budiarto Shambazy menegaskan, perkataan Ahok di Kepulauan Seribu awalnya sama sekali tidak membuat umat muslim tersinggung karena memang tidak ada kata-kata yang menistakan agama atau Kitab Suci Alquran. Namun, sebagian umat muslim menjadi marah ketika dipotong oleh Si Buni Yani (SBY) dan disiarkan di medsos.

“Nah dari sini saya katakan, yang merusak adalah Si Buni Yani dan media sosial (medsos). Kalau pers malah tidak,” kata dia. Untuk itu, ia mendesak pemerintah agar awasi penggunaan medsos ini.

Sementara Chrisman Damanik meminta generasi muda Indonesia agar merawat kebinekaan Indonesia yang berlandas Pancasila. Ia mengatakan, banyak generasi muda pemikiran dan tindakannya sudah menyimpang dari Pancasila. (Sumber: BeritaSatu.com/Siprianus Edi Hardum/EHD/Suara Pembaruan)

loading...
SHARE