Bagaimana Bisa Lembaga Survey AS Keliru Terkait Hasil Pilpres

74
loading...

Kemenangan mengejutkan Donald Trump atas Hillary Clinton dalam perebutan Gedung Putih juga menghasilkan satu pecundang lainnya: lembaga survei Amerika Serikat.

Kesalahan para lembaga survei itu begitu telak dalam memprediksi hasil pemilihan presiden Selasa (8/11) malam waktu setempat, sehingga masa depan industri ini dipertanyakan.

Dari 20 lembaga survei yang terbesar termasuk milik televisi nasional, suratkabar terkemuka dan media online yang telah melakukan 80 jajak pendapat sejak pertengahan September, hanya satu lembaga — Los Angeles Times bekerjasama dengan USC Tracking — yang secara konsisten menyebutkan keunggulan Trump.

Pada hari pemungutan suara Selasa pagi, RealClearPolitics menyatakan Clinton rata-rata unggul 3,3 basis poin secara nasional. Beberapa jam kemudian, komunitas lembaga survei secara bersamaan berada dalam situasi “ups”!

Lembaga survei kenamaan Nate Silver hanya berkomentar singkat: “mengerikan.”

loading...

Blog Nate Silver, FiveThirtyEight.com, memprediksi Clinton akan menang di sejumah negara bagian yang menjadi pertempuran sengit dua kandidat yaitu Florida, North Carolina, Pennsylvania dan Wisconsin. Trump menang di empat negara bagian itu, dan menang pemilihan.

Lembaga survei New York Times, the Upshot, menyatakan peluang Clinton untuk menang 85 persen, dan bahkan khusus di Wisconsin peluangnya 93 persen.

Profesor ilmu politik University of Virginia, Larry Sabato, yang juga direktur Center for Politics dan penulis buku “Sabato’s Crystal Ball”, juga memperikarakan kemenangan Clinton.

“Bola kristalnya retak, sobat,” kata Sabato dikutip AFP.

Kenapa berbagai jajak pendapat menjadi keliru besar?

“Sangat jelas ada sesuatu yang terjadi di sini,” kata Sabato, sambil menambahkan bahwa ratusan jajak pendapat sudah dilakukan sepanjang tahun ini.

Banyak lembaga survei mengambil sampel di daerah pemilihan yang sudah dipetakan dalam pemilihan sebelumnya, ujar dia. Itu yang menghancurkan prediksi, karena jajak pendapat yang dilakukan menyepelekan para pendukung Trump yang diam dan cenderung menghindari survei di sana.

“Partisipasi warga kulit putih di wilayah pedesaan Amerika menembus atap,” ujarnya, sementara partisipasi pemilih kulit hitam dan generasi muda menurun.

Meskipun lembaga survei telah menduga penurunan pemilih kulit hitam dan kaum muda dibandingkan pada 2012 ketika Barack Obama bertarung untuk masa jabatan kedua, “layar yang menunjukkan pemilih belum terdaftar tidak menangkap tingginya partisipasi di wilayah pedesaan kulit putih.”

Menurut seorang analis tim Clinton yang menolak disebutkan namanya, kubu calon presiden Partai Demokrat itu juga salah besar menganalisis suara kelas pekerja kulit putih.

“Mereka salah besar — dan mereka mengadu nasib,” ujarnya.

Apakah mereka juga menyepelekan kemarahan pemilih yang anti Hillary?

Tidak, kata Sabato. “Survei menunjukkan banyak sekali soal itu.”

Namun yang lain menyadari bahwa para lembaga survei mungkin tidak paham betapa dalamnya kebencian terhadap mantan ibu negara, senator, dan menteri luar negeri itu, yang disebut banyak orang sebagai anggota korup dari kelompok elite kemapanan Washington.

“Saya tak tahu betapa dalamnya kebencian itu,” kata ahli strategi Partai Demokrat Paul Begala.

Lalu bagaimana masa depan lembaga survei? Sabato mengatakan dia bingung, karena “ratusan jajak pendapat benar-benar telah keliru.”

“Akan ada satu atau lebih sidang para petinggi untuk mencari solusi yang efektif,” ujarnya.

Namun Sabato menolak untuk menyerah.

“Analisis secara anekdot bukanlah karya ilmiah,” tegasnya. “Anda tak bisa hanya mengandalkan insting, Anda harus mengandalkan data. Pepatah ‘sampah masuk adalah sampah keluar’ berlaku malam ini.”

Profesor itu juga mengingatkan adanya penurunan minat warga untuk terlibat dalam jajak pendapat lewat telepon. Nantinya, “sebagian besar jajak pendapat akan dilakukan online,” ujarnya, menepis anggapan bahwa survei internet bisa dimanipulasi dengan mudah.

“Bukannya tidak bisa dipercaya — itu tak terjadi jika Anda melakukannya dengan baik.” (Heru Andriyanto/HA/AFP/BeritaSatu)

loading...
SHARE