Ponpes NU Tolak Rizieq Shihab Sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia

1987
loading...

Pesantren di Yogyakarta menolak memberikan dukungan terhadap Rizieq Shihab sebagai imam besar umat Islam Indonesia. Beredar surat pernyataan tentang Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, yang isinya meminta kesediaan untuk mengangkat dirinya sebagai imam besar umat Islam Indonesia.

Surat pernyataan itu dibuat di Padeglang Provinsi Banten itu tertanggal 4 Januari 2017. Surat itu juga berisi seruan untuk berjanji setia atas perintah dan larangannya, yang sesuai dengan syariah Allah dan rasulnya. Edaran juga dibuat dengan melampirkan keterangan demi menyatukan umat Islam.

Surat edaran itu mencantumkan nama, jabatan, alamat, desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Selain itu surat juga mencantumkan identitas pembuat pernyataan.

Irwan Masduqi, Pemimpin Pesantren Assalaffiyah Mlangi di Nogotirto, Gamping Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengaku telah mendengar surat itu beredar di Banten. “Setahu saya surat itu baru beredar di Banten. Kalau di Yogyakarta belum ada edaran,” kata Irwan ketika dihubungi Tempo, Ahad, 8 Januari 2017.

Menurut Irwan, Habib Rizieq tidak punya pengaruh besar di Pesantren Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren NU lebih simpatik pada habib yang pro-perdamaian, santun, dan demokratis.

loading...

Pesantren NU pada umumnya lebih merujuk pada sosok seperti Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, Jawa Tengah, yang toleran dan teguh membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Mayoritas pesantren NU tidak setuju dengan cara-cara Habib Rizieq,” kata Irwan.

 

whatsapp-image-2017-01-08-at-21-35-40

 

Irwan mengatakan pesantren NU belum membuat surat edaran tandingan, yang berisi seruan untuk menolak surat edaran dukungan terhadap Rizieq. Pesantren pimpinan Irwan didirikan Haji Masduqi tahun 1936.

Pesantren itu dikenal mengajarkan pentingnya pendidikan toleransi dan keberagaman. Pondok itu dilanjutkan oleh putera Masduqi, yakni Haji Suja’i Masduqi. Suja’i guru spiritual tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Irwan merupakan anak Suja’i yang diwarisi untuk memimpin Pesantren Mlangi yang kini punya 750 santri laki-laki dan perempuan. Irwan tidak setuju dengan cara-cara yang dilakukan Islam garis keras yang sering menyerang kelompok lain. “Islam menghargai keragaman, bukan mengkafirkan. Tidak boleh saling memaksakan keyakinan,” kata dia.

 

 

SHINTA MAHARANIÂ/ TEMPO.CO

loading...
SHARE