Ragam Berita

Markas GMBI di Bogor yang dibakar. Foto: Dok. Istimewa

Markas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) di Bogor dibakar oleh sekelompok orang. Polisi mengamankan 20 orang yang diduga sebagai pelaku.

Sekretariat yang beralamat di Kampung Tegalwaru RT 05/03 Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Bogor itu dibakar massa sekitar pukul 02.51 WIB, Jumat (13/1/2017).

“Diduga dilakukan oleh massa FPI Ciampea jemaah Majelis Arasyafat kurang lebih 150 orang dipimpin oleh H Basyit dari Ponpes At-Taqwa Cikampak Ciampea Bogor,” ungkap Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Yusri Yunus, dalam keterangannya, Jumat (13/1).

Yusri menyebut pihaknya sudah melakukan antisipasi agar tidak terjadi kejadian tersebut. Ada dua lokasi pengamanan yang dilakukan jajaran polisi setempat.

“Sebelumnya telah dilakukan pengamanan terbuka dan tertutup yang terbagi di dua lokasi oleh Polsek Ciampea, di antaranya 15 Orang di lokasi Markas GMBI dipimpin Kapolsek Ciampea dan 5 orang anggota di lokasi markas FPI Majelis Arasyafat Jembatan Cinangneng Ciampe,” terang Yusri.

Selain itu, kata Yusri, Kapolsek Ciampea Kompol Nyoman Sudana sudah memberikan imbauan dan negosiasi terhadap massa yang ingin mengetahui keberadaan markas GMBI. “Namun tidak bisa dihalau karena kalah jumlah,” imbuhnya.

Menurut Yusri, Polres Bogor telah mengamankan 20 orang terduga yang melakukan pembakaran dan pengrusakan. Saat ini para pelaku sedang diperiksa.

“Polres Bogor telah mengamankan 20 orang terduga yang melakukan pembakaran dan pengrusakan untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan penyidikan,” ujarnya.

Sebelumnya, massa FPI dan polisi sempat bersitegang usai pemeriksaan imam besar FPI Habib Rizieq di Mapolda Jawa Barat pada Kamis (12/1).

Sementara itu Ketum DPP FPI Sobri Lubis mengaku belum mengetahui peristiwa tersebut, termasuk soal adanya sejumlah anggota FPI yang diamankan polisi. “Belum ada (informasi). Belum tahu, tanya sumber yang lain,” kata Sobri saat dihubungi detikcom, Jumat (13/1).

detikcom juga masih terus berusaha menghubungi petinggi FPI lainnya, termasuk Jubir FPI Munarman.

 

(elz/aan/Detik.com)

Muhammad Fachroni atau yang lebih dikenal dengan nama Oon ‘Project Pop’ meninggal dunia. Sang manajer, Jefri Hutagalung menjelaskan kepergian salah satu personel Project Pop tersebut.

“Iya benar sekali tadi pagi Muhammad Fachroni atau Oon meninggal dunia. Tepatnya pukul 05.00 WIB di rumahnya di Bandung. Memang kan selama ini dia di rawat di rumah ya jadi ya meninggalnya di rumah,” jelasnya kepada detikHOT, Jumat (13/1/2017).

Hingga saat ini jenazah masih disemayamkan di rumah duka di kawasan Kopo, Bandung, Jawa Barat. Jika tak ada aral-melintang, Oon akan dikebumikan setelah salat Jumat.

“Tapi tadi mbak Dessy belum bisa cerita lebih banyak lagi mau dikuburkan di mana soalnya dia masih syok banget pas telepon saya,” ucapnya lagi.

Sebelumnya, sang istri, Dessy sempat membenarkan kabar tersebut.

“Iya benar meninggal dunia di rumah jam 05.00 WIB,” urai Dessy.

(wes/dal/Detik.com)

Sekelompok orang dari Dewan Adat Dayak (DAD) menolak kedatangan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Tengku Zulkarnain, di Bandar Udara Susilo Sintang, Kalimantan Barat, pada Kamis, 12 Januari.

Aksi penolakan ini berlangsung sekitar pukul 10:00 WITA. Menurut keterangan yang diperoleh, penolakkan diduga dilakukan massa DAD karena pernyataan Zulkarnain di media sosial yang menganggap Suku Dayak tidak pantas masuk surga.

Kunjungan Zulkarnain ke Kabupaten Sintang diketahui massa DAD saat mereka sedang menunggu kedatangan Ketua DAD Provinsi sekaligus Gubernur Kalbar, Cornelis, di Bandara Susilo Sintang.

Pada saat menunggu kedatangan Cornelis itulah para pemuda Dayak ini mendengar informasi akan adanya kunjungan dari Wasekjen MUI Zulkarnain beserta rombongannya.

“Masyarakat Kabupaten Sintang, khususnya warga Dayak, menolak kedatangan Wasekjen MUI Pusat dan melarang menginjakkan kaki di tanah Sintang,” kata koordinator DAD, Andreas, dalam keterangan tertulis yang diterima Rappler, Kamis.

Ia mengatakan warga Dayak tidak membenci MUI, namun mereka tidak bisa menerima kehadiran oknum, yakni Zulkarnain, yang telah menghina suku Dayak.

Penolakkan ini membuat Zulkarnain mengurungkan niatnya untuk turun dari pesawat. Ia, bersama rombongan, dikabarkan langsung meninggalkan Sintang menuju Pontianak.

 

 

Sumber

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ustad Tengku Zulkarnain, dihadang tentara Dayak di Bandar Udara Susilo Sintang, Kalimantan Barat (12/1/2017).

Penghadangan itu dilakukan oleh rombongan para pemuda Dayak DAD (Dewan Adat Dayak) Kab. Sintang. dan ikut didalam rombongan tersebut di antaranya: Kepala Pengurus Ponpes LPKA Kab. Bengkayang M. Effendy Khoiri dan Sdr. Lukmanul Hakim.

Adapun kronologi penolakan Tengku Zulkarnain, oleh Pemuda Dayak Kab. Sintang sebagai berikut:

– Pada hari Kamis tanggal 12 Januari 2017 sekitar pukul. 09.30 wib bertempat di Gedung Pancasila Kel. Alai Kec. Sintang Kab. Sintang telah dilaksanakan kegiatan pelantikan pengurus DAD Kab. Sintang yang rencananya akan dilakukan oleh Ketua DAD Provinsi Kalbar sekaligus Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, SH, MH.

– Selanjutnya pada pukul. 09.45 wib para pemuda Dayak Kab. Sintang berjumlah sekitar 30 orang menggunakan 3 unit mobil yang dipimpin oleh Sdr. Andreas bergerak dari Gedung Pancasila Kel. Alai Kec. Sintang Kab. Sintang menuju ke Bandar Udara Susilo Sintang untuk menjemput kedatangan Ketua DAD Provinsi Kalbar Drs. Cornelis, SH, MH.

– Pada saat menunggu kedatangan Ketua DAD Prov. Kalbar Drs. Cornelis, MH, MH, para Pemuda Dayak DAD Kab. Sintang mendapatkan informasi tentang adanya kedatangan Tengku Zulkarnain, sehingga langsung melakukan penolakan.

– Melihat aksi yang dilakukan oleh para Pemuda DAD Kab. Sintang, selanjutnya pada pukul. 10.30 wib Tengku Zulkarnain, beserta rombongannya tidak jadi turun dan tidak berani turun dari pesawat dan langsung meninggalkan Kab. Sintang menggunakan pesawat Garuda Indonesia menuju Pontianak.

Baca juga: Sebut Dayak Kafir Dan Tak Pantas Masuk Surga, Ustad Tengku Dihadang Di Sintang

Dari informasi yang dihimpun, alasan mereka menolak kedatangan Tengku adalah dikarenakan statement Tengku di akun media sosial yang menghina rakyat Dayak.

Berikut foto yang didapat dari salah satu akun twitter terkait alasan warga Dayak menolak kedatangan Ustad Tengku Zulkarnaen. (kebenaran foto ini belum dapat dipastikan kebenarannya)

tengku ditolak warga dayak

 

Berikut Video detik-detik penghadangan Ustad Tengku Zulkarnaen oleh Warga Dayak (dari akun youtube Gerilyapolitik)

 

Sumber

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Sihab akan menggelar jalan sehat dan doa bersama pada tanggal 11 Februari 2017 yaitu empat hari sebelum hari pencoblosan Pilkada DKI.

Hal ini diungkapkan Rizieq Shihab saat dirinya menyambangi DPR Rabu 11/01/2017, dihadapan pimpinan DPR RI. Rizieq mengatakan pihaknya berencana menggelar doa bersama pada tanggal 11 Februari 2017.

“Doa boleh kan? Boleh, artinya doa untuk keselamatan bangsa,” kata Habib Rizieq di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Selain itu, kata Rizieq, pihaknya juga akan mendoakan agar Pilkada DKI 2017 ini bisa berjalan dengan lancar terutama dalam segi keamanan.

Sehinggga kondisi ibukota menjadi lebih baik kedepannya. Selain doa bersama, Habib Rizieq mengatakan pihaknya akan menggelar jalan sehat.

Jalan sehat itu akan berlangsung dari Monumen Nasional (Monas) menuju Bundaran Hotel Indonesia.

“Insya Allah tanggal 11 Februari ada jalan sehat 212, boleh kan ulama ikut jalan sehat? kita undang semua, kita jalan sehat dari Monas ke HI. Ingat jalan sehat 212 tanggal 11 Februari,” kata Habib Rizieq.

Masjid Al Fauz di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat (Foto: Kompas.com)

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov DKI Jakarta Saefullah dipanggil bareskrim untuk diperiksa dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono,  adalah hal yang wajar jika Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah dipanggil dan diperiksa oleh penyelidik Bareskrim Polri. Sebab, menurut Sumarsono, Saefullah merupakan pimpinan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

“Wajar, karena dia memang komandannya. Seperti kalau ada terjadi sesuatu di Dishub, kepala dinasnya yang mesti dimintai keterangan. Itu hal yang wajar, satu konsukuensi jabatan,” kata Sumarsono, di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Rabu (11/1/2017).

Bareskrim Polri tengah melakukan penyelidikan dugaan korupsi dalam pembangunan masjid di kantor Wali Kota Jakarta Pusat yang dibangun dengan menggunakan APBD tahun anggaran 2010 dan 2011 senilai Rp. 27 miliar.

Masjid Al Fauz yang terletak di kantor Wali Kota Jakarta Pusat itu sendiri diresmikan pada era Fauzi Bowo yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 30 Januari 2011. Sedang pembangunannya dimulai sejak tahun 2010 saat Sylviana Murni menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat.

Peletakan batu pertama dilakukan pada awal Juni 2010 dan pembangunan rampung akhir Desember 2010.

Saat itu, Sylviana masih menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Pusat hingga awal November 2010. Sedangkan, Saefullah dilantik menggantikan Sylviana yang dipromosikan sebagai Asisten Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta pada 4 November 2010.

Menurut informasi yang diterima, bukan tidak mungkin polisi juga akan memanggil Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Sylviana Murni untuk dimintai keterangannya, mengingat mesjid tersebut berada didalam lingkungan kantor Walikota Jakarta Pusat tempat Sylviana berkantor saat menjabat sebagai Walikota.

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipikor) Bareskrim Polri mengagendakan pemeriksaan terhadap Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah.

Dia diperiksa untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan korupsi pada pengadaan masjid di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat tahun anggaran 2010 dan 2011.

“Iya diperiksa,” kata Waditipikor Kombes Erwanto Kurniadi saat dikonfirmasi merdeka.com, Jakarta, Rabu (11/1/17).

Masjid Al Fauz yang terletak di kantor Wali Kota Jakarta Pusat itu sendiri diresmikan pada era Fauzi Bowo yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 30 Januari 2011.
Masjid dua lantai itu dibangun menggunakan dana APBD 2010 sebesar Rp 27 miliar.

Bahkan, pembangunan masjid Al Fauz itu sudah dimulai sejak masa kepemimpinan Sylviana Murni selaku Wali Kota Jakarta Pusat. Peletakan batu pertama dilakukan pada awal Juni 2010 dan pembangunan rampung akhir Desember 2010.

Saat itu, Sylviana masih menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Pusat hingga awal November 2010. Sedangkan, Saefullah dilantik menggantikan Sylviana yang dipromosikan sebagai Asisten Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta pada 4 November 2010.

Erwanto mengakui pihaknya tengah melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Namun, dia menolak membeberkan detail penyelidikan dari dugaan rasuah itu.

“Penyelidikan itu ada, soal masjid Wali Kota Jakpus. Tapi kalau penyelidikan kita enggak bisa kasih detailnya,” pungkas dia.

sumber: merdeka.com

Hj. Irena Handono hari ini menjadi saksi pelapor untuk kasus dugaan penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dalam kesaksiannya, Irena banyak mengatakan beberapa hal yang telah dilakukan Ahok selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta yang menurutnya telah menghina umat islam, namun semua itu dibantah oleh Ahok.

Tercatat lebih dari 10 kesaksian Irena yang dibantah oleh Ahok dalam persidangan hari ini yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (10/1/2017).

Dalam keterangan persnya, pengacara Ahok, Humphrey Djemat mengatakan beberapa kesaksian Irena Handono yang dibantah oleh Ahok :

Irena mengatakan bahwa Ahok pernah merobohkan sebuah mesjid. Terhadap kesaksian ini Ahok membantah dengan balik bertanya kepada Irena “Mesjid mana yang saya robohkan? kalau maksud anda mesjid yang di Marunda itu, bukan dirobohkan tapi karena ingin dibangun kembali yang lebih bagus”. Ahok mengatakan mana mungkin dia merobohkan mesjid sementara ditempat lain dia justru telah membangun beberapa mesjid.

Irena juga menyebutkan Ahok melarang acara agama islam diselenggarakan di Monas., sedangkan untuk perayaan paskah diijinkan oleh Ahok. Ahok kembali membantah hal tersebut. Menurut Ahok dia hanya menjalankan undang-undang bahwa Monas hanya diperuntukkan untuk acara kenegaraan “Saya tidak pernah mengizinkan Paskah di Monas, tidak tahu kalau di zaman gubernur lain,” ucap Ahok. “.

Irena kemudian juga menyinggung perkataan Ahok yang mengatakan bahwa para PNS pemprov DKI tidak beriman. “Itu fitnah,” kata Ahok. Ahok mengaku saat itu sedang memberikan pengarahan kepada PNS soal kaitan keimanan dengan sikap sehari-hari. “Saya bilang kalau beriman, ya jangan korupsi, kalau kalian korupsi berarti kalian tidak beriman” kata Ahok.

Ahok lagi-lagi membantah pernyataan Irena yang menudingnya mengganti seragam busana muslim setiap hari Jumat di sekolah di Jakarta. Merespons itu, Ahok mengatakan bahwa itu tidak benar dan bisa dicek, dia memiliki kepedulian lebih terhadap siswa Muslim dengan mengalokasikan anggaran seragam untuk siswa Muslim.

Dari beberapa kesaksian Irena yang dianggap sebuah kebohongan atau fitnah tersebut, Humphrey mengatakan berencana melaporkan Irena ke polisi dengan tuduhan memberikan keterangan palsu dan fitnah.

Sekjen Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman mengaku tak perlu melakukan klarifikasi atau tabayun terkait pidato Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Kepulauan Seribu yang kemudian dianggap menodakan agama.

Menurut Pedri, penodaan agama sudah termasuk perbuatan pidana, sehingga tak perlu melakukan klarifikasi.

“Saya sudah jelaskan, tabayun itu konteksnya berbeda. Ini kan kasus hukum. Kasus hukum tidak ada tabayun-tabayunan,” kata Pedri usai menjadi saksi sidang Ahok di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian, di Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (10/1/2017).

Pedri juga menyatakan, tidak perlu melayangkan teguran tertulis kepada Ahok sehingga memilih langsung melakukan pelaporan.

“Saya katakan ini kasus hukum, itu dalam Pasal 156A itu tidak ada mekanisme teguran, tidak perlu itu,” ujar Pedri.

Pihaknya juga menyatakan tidak berkoordinasi dengan Muhammadiyah Pusat dan MUI terkait hal ini. Sebab, PP Pemuda Muhammadiyah dan Angkatan Muda Muhammadiyah adalah organisasi otonom Muhammadiyah.

“Apa yang program dan kebijakan mereka putuskan masing-masing tidak perlu ke PP Muhammdiyah. Dan setelah kami melapor tidak ada teguran dari PP Muhammadiyah, malah mereka mendukung,” ujar Pedri.

Pedri mengatakan, pihaknya memutuskan melaporkan Ahok dengan saksi dari tiga organisasi yakni PP Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Muslimah Muhammadiyah dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Terkait permintaan maaf Ahok, menurut dia, permintaan maaf itu berbeda dengan kasus hukum.

“Ini kasus hukum, berbeda dengan permintaan maaf,” ujar Pedri. (Kompas.com)

Hj. Irena Handono adalah seorang Ustazah pendiri Yayasan dan Pondok Pesantren Muallafah Irene Center yang berlokasi di Kp. Tapos Bojong Koneng, Bogor. Irena Handono sering juga dipanggil dengan sebutan Ummi Irena.

Hampir disetiap kegiatan dakwahnya, Irena kerap mengaku bahwa dia adalah seorang mantan Biarawati sebelum dirinya menjadi mualaf. Irena juga kerap berbicara tantang kitab suci umat Kristiani yang dianggap oleh umat Nasrani terlalu memojokkan dan cenderung menjelek-jelekan Alkitab

Sebut saja buku-bukunya yang dianggap telah melecehkan umat Nasrani seperti:  “Mempertanyakan Kebangkitan & Kenaikan Isa Al-Masih”, “Paulus, Sang Pendiri Kristen”, Bible Bukan Injil” dan “Waspadai Pemurtadan”. Semua buku-buku Irena ini tertuju kepada kitab dan iman umat Nasrani.

Namun, apakah benar Hj. Irena Handono adalah seorang mantan Biarawati? Menurut tulisan dari akun Facebook Gayatri WM ini yang mengaku telah melakukan penyelidikan secara personal tentang kebenaran tersebut mengatakan bahwa Irena Handono bukanlah seorang Mantan Biarawati.

Berikut Tulisan dari sebuah akun facebook bernama Gayatri WM yang dikutip oleh redaksi:

Ustazah Irena Handono yang Baik Tolong Jangan Berdusta tentang Status Mantan Biarawati Anda: Kesaksian Sr Lucyana ~ Oleh Syaikha Gayatri RA Gayatri Wedotami Muthari.

Sebagai seorang yang terlahir sebagai Muslim dan kemudian aktif sebagai aktivis dialog antar iman sejak menjadi darwis Daudiyah, saya merasa malu dan sedih mengetahui sejak lama bahwa Anda menggunakan status mantan biarawati Anda untuk memikat dakwah Anda yang kerap melecehkan ajaran Kristen bahkan menistakan Alkitab.

Apalagi saya sebenarnya lebih mempercayai berita bahwa Anda belum benar-benar pernah menjadi biarawati. Namun, informasi mengenai Anda pernah menjadi mantan biarawati terus-menerus diulang. Ini sangat tidak sehat untuk dialog antar iman dan harmoni antara umat beragama.

Saya seorang syaikha sejak tahun 2015 saja baru belakangan berani menggunakan gelar pemberian guru-guru saya, Anda kok belum resmi mengenakan habit sudah berani mengaku pernah menjadi biarawati? Sejak tahun 2009 terutama sejak tahun 2011 saya sudah banyak bertemu, bersahabat dan bahkan bermalam di biara-biara para biarawati. MEREKA ADALAH PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG LUARBIASA.

Saya berangkat ke Roma atas undangan seorang suster keturunan India yang luarbiasa dari ordo Bunda Hati Kudus. Beliau (Sr Gerardette) adalah lulusan pertama S2 Filsafat Islam dan sudah 20 tahun sampai tahun lalu menjalani ibadah puasa Ramadhan secara penuh.

Saya bersahabat dengan Sr Virginia Adnan dari Verbum Dei yang tidak berhabit, dan para suster Passionis. Di Basilika St Paul of the Cross di Via Claudia, Roma, saya pernah membacakan doa kaum beriman pada misa hari ulang tahun asrama saya yang ke-25 The Lay Centre.

Di sana saya pertama kali bertemu dengan para suster Ursulin Indonesia — ordo yang pernah menjadi tempat Anda nyaris menjadi suster — dan mereka menangis mendengar saya berdoa dalam bahasa Indonesia di basilika tua itu!

Selanjutnya persahabatan saya dengan para suster Ursulin kembali terjalin ketika saya kembali ke Indonesia karena rumah saya dekat Pondok Ursulin di Kampung Sawah, Bekasi. Selain mereka sejak di Italia saya juga menjalin persahabatan dengan suster-suster dari ordo lain seperti Xaverian, Lambung Kudus Yesus, Fransiskan, Sisters of Charity, Karmelit, Carmosian, dan lain-lain.

Selain suster, saya juga berkawan dengan seorang perempuan berkaul berhabit yang berbeda dengan para perempuan awam berkaul. Jadi, kalau ada siapa saja (terutama Muslim) mau mencoba untuk membohongi publik tentang pernah menjadi mantan biarawati atau bahkan mantan pastor, biarawan, dan lain-lain, untuk tujuan dakwah Islam mereka, saya bisa membantu teman-teman Kristiani yang merasa telah dilecehkan karena kebohongan itu.

Saya tidak suka dan saya akan membela kebenaran tak peduli apa agama orang yang saya bela dan saya kritik.
Berikut adalah kesaksian Sr Lucyana dari Biara Ursulin yang permah dimuat tabloid Sabda tahun 2005 tentang Hj Irena Handono setelah kesaksian kemantan-biarawatiannya beredar meluas lagi. (saya hanya edit EYD-nya, karena sebagai alumni sastra saya gatal melihat tatabahasa yang kacau)

Menurut kesaksian Sr. Lucyana, Irene masuk postulan biara Suster Ursulin tahun 1974 di Jalan Supratman I Bandung. Hanya beberapa bulan sebagai postulan, karena selanjutnya dia tidak diterima untuk melanjutkan ke tahap berikutnya yang diawali dengan proses “kleding” (penerimaan pakaian suster).

Alasannya tidak diterima karena Irene mengidap berbagai penyakit seperti asma, sehingga sampai kasur tidur harus special tidak seperti kasur-kasur biarawati yang lain, selain itu Irene juga membawa motor pribadi merk Suzuki. Maklum orang tuanya adalah pengusaha pabrik plastik dan peternakan ayam di Jawa Timur.

Lebih dari itu, ada kekhususan yang dimiliki Irene, yaitu irene tidak lebih dulu melalui tahapan pengenalan selama 1 tahun (aspiran) sebagaimana biasanya, melainkan langsung menjadi postulan yang merupakan tahap kedua setelah aspiran.

Saat postulan Irene mendapat tugas studi filsafat di Jalan Pandu yang sekarang menjadi Fakultas Filsafat dan Teologi Bandung. Tetapi, berhubung dia tidak diterima untuk proses kleding, maka ia hanya beberapa bulan saja studi filsafat dan berhenti, menurut Suster Lucy, ia baru pada tahap Pengantar Ilmu Filsafat dan Sejarah Gereja.

Karena tidak bisa melanjutkan pada proses tahap selanjutnya di biara, dia pun pindah ke Jakarta dan tinggal di asrama putri St.Ursula di Jalan Pos II. Kemudian Irene masuk kuliah di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta. Sebagai mahasiswa dia harus melanjutkan proses ploncoan.

Pada saat orientasi itulah dia mengenal seoang senior bernama Maxi Sintu Da Rato yang menjadi pemimpin plonco, yang pada akhirnya menjadi suaminya pada tahun 1975 mereka menikah di gereja Katolik Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

Dari pernikahan itu Tuhan mengaruniai 3 orang anak. Pasangan ini tidak langgeng. Karena itu keduanya berpisah . Kabarnya, Irene akhirnya hidup dengan seorang pria Arab-Pakistan, yang bekerja pada perternakan warisan ayahnya yang dipercaya kepada mantan suaminya Maxi.
 
Lebih lanjut teman-teman yang seangkatan yang sudah menjadi suster antara lain: Sr. Engeline menjadi kepala sekolah SMP Vincentius Putri Jakarta di Jalan Otista, Jakarta Timur, Sr imelda, suster di St. Theresia Jl. Sabang, Jakarta, Sr. Benigna yang dulu pemimpin postulan dan novisiat Biara Ursulin di Bandung, dan kini tinggal di biara Otista.

Jadi dengan tegas Sr. Lucyana mengatakan bahwa Irene bukan mantan biarawati, karena tahapan menjadi seorang biarawati tidak dilalui Irene. Menurutnya, tahapan menjadi biarawati Ursulin adalah pada saat menerima pakaian suster (kleiding) atau masuk masa novisiat.

Masa itu harus dijalani selama setidaknya 2 tahun. Kemudian masa yunior dengan mengikarkan kaul pertama yang harus dijalani 5 tahun.

Setelah itu baru seorang biarawati menjadi biarawati sesungguhnya dengan mengikarkan kaul kekal. Dengan demikian klaim Irene bahwa Ia adalah mantan biarawati sampai belajar diperguruan tinggi teologi sama sekali tidak benar.

Silakan kepada Ustazah Irena dan atau para pengikut serta fansnya untuk mengklarifikasi kesaksian Sr Lucyana. Sebenarnya saya pribadi lebih mempercayai kesaksian ini setelah membandingkannya dengan keterangan Ustazah Irena sendiri yang inkonsisten atau kurang meyakinkan mengenai status mantan kebiarawatiannya.

Saya berharap Anda, Ustazah yang baik, tidak perlu lagi melanjutkannya jika ini benar, dan berdakwahlah dengan jujur sebagaimana riwayat hidup Anda yang sesungguhnya. Kesaksian dusta adalah pelanggaran sila Dekalog sebagai alfurqon (Qs alBaqara:53), sebab itulah saya sebagai syaikha Daudiyah mau bersusah-payah mengkritik keras hal ini sebab Anda seorang ustazah yang mengajarkan agama.

Sayyid Haji Bektash Wali mengajarkan kepada kami, “KEJUJURAN ADALAH PINTU BAGI PERSAHABATAN.”

Rahayu.
Syaikha RA Gayatri Wedotami Muthari.

 

Sumber: Akun FB Gayatri WM