Ragam Berita

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) membacakan putusan gugatan Perhimpunan Sosial Candra Naya (PSCN) dalam hal pemindahan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) antara Yayasan Kesehatan Sumber Waras (YKSW) kepada Pemprov DKI Jakarta. Majelis hakim menolak semua gugatan yang diajukan oleh PSCN.

“Majelis hakim menolak gugatan dari penggugat seluruhnya dan menghukum penggugat memikul biaya dalam perkara ini sebesar Rp 516 ribu,” kata ketua majelis hakim Muchammad Arifin, dalam persidangan di PN Jakarta Barat, Jalan S Parman, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (10/1/2016).

Hakim menilai YKSW adalah lembaga sah yang berhak mengalihkan SHGB kepada Pemprov DKI. Sebab YKSW memiliki SK Kementerian Hukum dan HAM.

“Majelis hakim berpendapat, penggugat tidak bisa buktikan sertifikat hak guna tanah adalah miliknya, maka tergugat adalah subjek hukum yang sah yang memiliki tanah tersebut. Tergugat (YKSM) berhak menjual kepada turut tergugat (Pemprov DKI),” ujar Arifin.

Sementara itu, pihak PSCN akan melakukan banding terhadap putusan majelis hakim. Kuasa hukum PSCN Amor Tampubolon, merasa kecewa karena gugatannya tidak dikabulkan.

“Kita tidak sependapat, kita punya hak untuk banding. Gugatan kita mendasar tetapi berbeda pendapat dengan majelis,” kata Amor.

Awalnya RS Sumber Waras didirikan Perhimpunan Sosial Candra Naya (Sin Ming Hui) pada 17 Agustus 1962. Tapi belakangan terjadi sengketa kepemilikan seiring berpindahnya kepengurusan SR Sumber Waras ke YKSW pada 6 Desember 1962.
(asp/asp)

Tri Ari Yani Puspo Arum (22), seorang mahasiswi Universitas Esa Unggul ditemukan tewas di kamar kosnya di Jalan H Asmat Ujung, Perumahan Kebon Jeruk Baru, Jakarta Barat, pagi tadi. Arum-sapaan akrabnya, meregang nyawa dengan dua lubang menganga di lehernya.‎

Saat ini, sejumlah saksi tengah diperiksa di Mapolsek Kebon Jeruk untuk menggali kronologis dan motif pelaku yang menyebabkan Arum tewas.

Selain diketahui sebagai seorang mahasiswi, Arum juga bekerja sebagai sales engineer di PT Metropolitan Bayu Industri, sebuah perusahaan yang menjual beragam pendingin udara (AC).

Kepala HRD PT Metropolitan Bayu Industri Jamal Iqbal mengungkapkan, sebelum tewas, Arum disebut berkumpul dengan rekan-rekan ditempatnya bekerja.

“Jumat malam makan-makan bareng sama temennya sekantor perpisahan dengan Annisa (rekan) karena pindah kerjaan,” kata Iqbal di Mapolsek Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (9/1/2017).

Setelah itu, Arum kemudian menyempatkan pulang kerumahnya di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, pada keesokan harinya setelah berkumpul dengan rekan kerjanya.

“Dia ke Ciracas (rumahnya) hari Sabtu, terus enggak ada orang, kemudian pulang kekosannya hari Minggu dan menyempatkan ke kampusnya dulu. Ia juga sempat tidur siang,” tutur Iqbal.

Pada Minggu malam, kata Iqbal, Arum disebut tidak bisa tidur lantaran takut akan sesuatu yang tidak bisa disebutkannya. Iqbal mengetahui hal ini berdasarkan penuturan temannya Arum.

“Minggu malam dia katanya enggak bisa tidur dan WA (Whatsapp) temannya katanya ‘seram’ dan jangan di ceritain (lewat chat WA),” sebut dia.

Keesokan harinya, Arum akhirnya ditemukan tak bernyawa dengan luka menganga di leher. Kematian tak wajar dara cantik ini sempat membuat Iqbal kaget.

“Jam setengah sembilan (pagi tadi) saya baru tahu, tahunya muntah darah. Saya dapat info dari rumah sakit ternyata ada luka di leher satu dan perut samping satu,” pungkas Iqbal. (sym)

Polda Metro Jaya telah menetapkan seorang anggota Laskar Pembela Islam (LPI) bernama Irfan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengeroyokan terhadap pengurus ranting PDIP Widodo. Kasus itu terjadi pada Jumat, 6 Desember di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Jadi saat ini sudah satu pelaku itu yang sudah lakukan penahanan. Dia juga sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, di Mapolda Metro Jaya, Senin (9/1).

Selain itu, polisi juga telah memeriksa sembilan orang saksi. Mereka adalah orang yang berada di sekeliling Widodo saat peristiwa itu terjadi.

“Ya saksi itu yang melihat, mendengar, dan di sekitar situ ya,” jelas dia.

Sementara itu pihak FPI menolak kasus tersebut disebut pengeroyokan. Mereka menyebut Widodo kalah saat duel satu lawan satu melawan salah satu anggota LPI. (sbr)

Ketua Kelompok Nelayan Pulau Pramuka Abdullah bin Saidah meminta tablig akbar yang menghadirkan KH Abdullah Gymnastiar atau yang biasa disapa Aa Gym ditunda. Dia menduga ceramah Aa Gym dalam tablig akbar nanti akan berbau politik. Apalagi, penyelenggara tablig akbar ini merupakan salah satu massa anti pasangan calon tertentu.

Warga Pulau sudah tenteram dan jangan diganggu lagi. Seperti kemarin, kami dinyatakan oleh saksi Noval Bamukmin (persidangan Ahok 3 Januari 2017) bahwa kami kurang iman, itu terlalu menyakitkan. Dan sekarang kami sudah bisa mengendalikan diri. Jangan dibikin panas lagi,” ujar Abdullah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (8/1).

Aa Gym berencana hadiri tablig akbar di Masjid Al Makmuriah pada Senin (9/1) bersama rombongan dari ormas Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI.

Abdullah mengingatkan, ceramah tentang agama baik saja buat masyarakat, tetapi ini momen Pilkada jangan sampai isinya menjelek- jelekan salah satu pasangan calon. Karena rumah ibadah kan tidak boleh digunakan untuk berkampanye.

“Bijaklah, karena kami sudah sejak lama aman dan tenteram. Dan jangan buat kami berpecah belah di antara kami hanya karena kami berbeda pilihan, ” tegasnya.

Abdullah menambahkan warga Pulau Pramuka hampir 60 persen memiliki ikatan saudara. Sehingga, tablig akbar berbau politik membuat warga terpecah belah.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan mestinya panitia sudah mengajukan izin tiga hari sebelumnya dalam penyelenggaraan tablig akbar. Namun sampai saat ini permohonan izin itu belum diterima polda Metro Jaya.

“Saya menghormari Aa Gym. Namun, kalau belum berizin sebaiknya ditunda dulu, setelah masa Pilkada DKI selesai silahkan saja. Ini kan masa kampanye, bisa jadi orang akan menganggap Aa Gym tengah berkampanye apalagi di dalam masjid, jelas pelanggaran,” pungkas Abdullah.

 

 

Sumber

Salah satu dari 10 pengeroyok Widodo, kader PDIP, akhirnya menyerahkan diri ke Polres Jakarta Barat. Saat ini, pelaku berinisial I tersebut masih diperiksa di Polres Jakarta Barat.

“Untuk pelaku berinsial I sudah datang menyerahkan diri didampingi oleh orangtuanya, sekarang masih diperiksa,” ujar Kapolres Jakarta Barat Kombes Roycke Harry Langie kepada detikcom, Minggu (8/1/2017).

Roycke mengatakan, I akhirnya datang setelah pihaknya melakukan pendekatan kepada orangtuanya. “Sehingga tadi jam 03.00 WIB dini hari, yang bersangkutan datang,” imbuhnya.

Roycke menambahkan, penyidik saat ini masih mendalami keterangan dari I. Polisi juga masih mengejar pelaku lainnya.

“Untuk pelaku lainnya masih kita kejar, anggota masih di lapangan,” lanjut dia.

Dijelaskan, pengeroyokan ini bermula ketika Cawagub DKI Djarot Saiful Hidayat melakukan kampanye di kawasan Jakarta Barat pada Jumat (6/1) sore kemarin. Saat berkampanye, kedua pelaku ini berteriak-teriak.

Kemudian ada sekelompok orang berteriak ‘haram…haram’. Mendengar hal itu, korban pun menegur keduanya. Namun saat itu tidak ada reaksi dari kedua pelaku.

Hingga pada malam harinya, sekitar pukul 21.00 WIB, korban yang sedang berada di depan rumahnya di kawasan Jelambar, Jakarta Barat, didatangi oleh 2 pelaku dan 8 orang lainnya. Tanpa ba-bi-bu, para pelaku mengeroyok korban hingga babak belur.

Korban kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Polisi saat ini masih menyelidiki kasus tersebut.

 

Detik.com

Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto menjenguk widodo korban pengeroyokan (Foto:Detik.com)

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto meminta penegak hukum bertindak atas aksi-aksi sepihak yang selama ini dilakukan Front Pembela Islam (FPI). Menurutnya, pembiaran atas aksi FPI yang menyalahi aturan justru akan memancing reaksi dari kelompok lain.

Hasto mengatakan hal itu menyusul kasus pengeroyokan terhadap pengurus ranting PDIP Grogol, Widodo oleh anggota FPI. Menurutnya, aksi kekerasan dan tindakan main hakim sendiri tak bisa dibenarkan dalam negara hukum.

“Tindakan kekerasan itu tidak manusiawi dan merusak peradaban, bertentangan dengan ajaran mana pun,” katanya melalui layanan pesan singkat, Sabtu (7/1).

Apalagi jika aksi kekerasan itu ada kaitannya dengan proses pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI, kata Hasto, maka demokrasi semakin terancam. Dalam pengamatannya, belakangan ini kekerasan baik verbal maupun fisik seolah menjadi budaya baru.

Menurut Hasto, akhir-akhir ini memang marak hal-hal yang tak mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai bangsa yang santun dan toleran. “Ini gejala yg membuat kita cemas dan harus benar-benar kita waspadai,” lanjutnya.

Selain insiden penganiayaan itu, Hasto juga menyoroti aksi-aksi melanggar hukum lain yang dilakukan oleh FPI. Yang paling sering terlihat adalah aksi simpatisan ataupun aktivis FPI menghadang Calon Gubernur DKI Basuki T Purnama alias Ahok saat berkampanye.

Hasto menegaskan, pimpinan FPI harus bertanggung jawab terhadap tindak-tanduk anggotanya di lapangan. Jika FPI tidak melakukan langkah-langkah kongkret untuk meredam aksi sepihak anggotanya dan kepolisian tak bersikap, Hasto pun mengkhawatirkan akan ada aksi balasan. “Itu akan memancing reaksi dari kelompok lain,” katanya.

Hasto juga menegaskan bahwa PDIP tidak merasa takut dengan intimidasi. “Sebagai Partai yang solid, kami tidak pernah takut. PDI Perjuangan memiliki kekuatan dari Sabang sampai Merauke,” katanya,

Meski demikian Hasto tetap mewanti-wanti kepada kader-kader partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu agar tidak terpancing hingga berindak anarkistis. Dia menegaskan, seluruh kader partainya harus menyerahkan kasus pengeroyokan atas Widodo ke kepolisian.

“Percayakan kepada proses hukum, jangan membalas kekerasan dengan kekerasan. Seluruh kader di mana pun harus menahan diri dan menjaga peradaban demokrasi yang baik dengan tidak melakukan hal yang sama dengan anggota FPI,” tegasnya.(ara/jpnn)

Pada September 2016 lalu, masyarakat Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, antusias menyambut Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dalam sosialisasi budidaya ikan.

Meski undangan ditujukan hanya kepada para nelayan budidaya ikan, tak sedikit warga Pulau Pramuka lain hadir, menyaksikan langsung saat Ahok mengucapkan perkataan yang diduga menista agama Islam itu.

Perkataan diduga menista agama pun viral saat diunggah dan disebarkan di media sosial. Ribuan umat Islam pun turun ke jalan, melalui tiga kali aksi damai. Mereka menuntut dugaan penistaan agama dipersidangkan dan Ahok dihukum seadil-adilnya. Ahok pun maju ke meja hijau.

Liputan6.com mencoba menelusuri langsung ke tempat Ahok menuturkan kalimat yang diduga menista agama itu. Mencari pendapat masyarakat terkait apa sebenarnya yang terjadi pada September 2016.

“Saya saat itu datang, mendengar, dan menyaksikan tapi enggak tahu dimana letaknya (kalimat menista agama),” kata Yono, pria 59 tahun yang berprofesi sebagai nelayan dan penjual es goyang saat ditemui Liputan6.com di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jumat 6 Januari 2017.

Tak hanya Yono, rekan sejawatnya pun menimpali dengan argumentasi senada. “Mungkin kita enggak ngeh, karena kan emang gaya ngomongnya Pak Ahok sambil humor, jadi selewatan aja.”

“Kalau dibilang ketawa ya emang kita ketawa seperti di video itu,” lanjut Rahmat, nelayan yang juga bekerja sebagai penjual gorengan.

Terkait perkataan saksi sidang kasus dugaan penistaan agama yang juga kader Front Pembela Islam (FPI) Novel Bamukmin, bahwa masyarakat Pulau Pramuka masih awam Islam, Yono dan Rahmat, tak menampik tudingan Novel.

“Ya mas, kalau dibilang awam ya memang begini kami adanya. Saya pribadi memang tidak terlalu mendalam ilmu agamanya. Bisa juga misalnya ngeh perkataan Pak Ahok itu, mungkin dianggapnya ya sambil lalu aja, karena kita di sini santai saja enggak berpikir kutipan agama dari Pak Ahok berniat menistakan,” kata Yono.

Meski mengaku awam, Yono mengatakan, jika ada tendensi seseorang menistakan Islam, siapa pun tak akan bisa selamat pulang dari Pulau Pramuka.

“Gini, saya dan teman di sini dan kemarin yang turut hadir, betul tidak menyangka apa iya sih Pak Ahok sengaja ngutip ayat dimaksud itu? Karena kalau kita merasakan itu ada (sengaja menista) mungkin sudah dikeroyok sama warga sini, tapi kan faktanya enggak,” tegas Yono sembari melayani anak-anak yang membeli dagangnnya.

Siap Pilih Ahok

Menyinggung Pilkada DKI Jakarta pada Februari 2017, Yono pun blak-blakan siap memilih kembali sang petahana yang kini berstatus terdakwa itu.

“Kenapa malu mas? Saya jujur pro-Ahok. Saya lihat dan rasakan kerjanya. Secara yang saya rasakan, meski bisa dibilang hidup saya ya begini-gini aja, tapi ini bukan salah gubernur,” kata dia.

“Saya lihat kemajuan di birokrasi dan lingkungan tempat tinggal saya di Pulau Pramuka yang semakin baik, dan ke depan pasti wilayah Kepulauan Seribu bisa tambah baik lagi pasti,” sambung bapak enam anak ini.

Yono bahkan bercerita pernah meminjam modal di bank pemerintah untuk sekadar menguji adanya praktik nakal birokrasi pada era kepemimpinan Ahok. Tapi justru dia terkejut, tak satu pun pegawai yang nakal atau berupaya melakukan praktik korupsi.

Pegawai bank pelat merah itu justru menantang balik, jika ada praktik korupsi sebaiknya dilaporkan saja. Hal lain yang buat Yono terkesan, adalah tingkat pengangguran di Pulau Pramuka dirasa berkurang, karena diberdayakan sebagai pembersih pantai dan laut.

Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyayangkan aksi pengeroyokan yang dialami Wakil Ketua Ranting PDI-P Jelambar, Widodo.

Apalagi, motif pengeroyokan tersebut karena adanya ketidaksukaan terhadap pasangan calon nomor urut dua, Basuki dan Djarot.

Pria yang akrab disapa Ahok ini mengatakan, selama ini dia dan Djarot hanya meminta izin kepada warga untuk memberi mereka kesempatan lagi. Sehingga, mereka berdua bisa menyelesaikan perjuangan untuk membenahi Jakarta.

“Kami minta izin untuk menyelesaikannya saja. Jadi seharusnya kalau enggak setuju mengizinkan kami menyelesaikan perjuangan kami, ya enggak usah ambil tindakan pengeroyokan atau pemukulan kepada timses kami,” ujar Ahok.

Hal itu dikatakan Ahok usai menjenguk Widodo di RS Royal Taruma, Jakarta Barat, Sabtu (7/1/2017). Ahok mengkhawatirkan kondisi Widodo yang akan cacat dan kesulitan mencari nafkah untuk istri dan anaknya.

“Kalau tidak setuju atau tidak suka ya silakan saja, jangan dipilih, tapi jangan main keroyok dong”

Menurut Ahok, seharusnya pengeroyokan itu tidak perlu terjadi. Dia pun bingung kenapa orang yang mendukung dia dan Djarot harus dipukul oleh orang yang memiliki pilihan berbeda.

“Kasihan kan, dia tukang ojek anak satu, kalau dipukul kayak gitu dia retak sampai cacat seumur hidup, enggak bisa kerja, bagaimana? Siapa yang mau piara anak-anaknya?” ujar Ahok.

Kejadian ini bermula ketika Djarot melakukan blusukan di kawasan Jelambar pada Jumat (6/1/2017) siang. Ketika itu, sempat ada beberapa orang yang mencoba menghalangi blusukan itu. Mereka mengucapkan kata “haram-haram” kepada Djarot.

Widodo sedang mengawal Djarot dalam blusukan itu. Widodo menyampaikan kepada mereka “enggak ada yang haram”.

Malam harinya, Widodo dikeroyok oleh orang-orang tersebut saat dia sedang berada di warung. Jumlah pengeroyoknya diperkirakan 10 orang. Dalam keadaan babak belur, Widodo dijemput para pengurus PDI-P untuk membuat laporan ke Polsek Tanjung Duren.

Hingga saat ini, Widodo masih dirawat di RS Royal Taruma.

Widodo, relawan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat, babak belur dikeroyok sejumlah orang di Jalan Jelambar Utama, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Jumat (6/1/2017) malam.

Widodo saat itu tengah duduk di warung.

“Pas lagi di situ, tiba-tiba didatangi 10 orang dan langsung dipukuli,” kata Kapolsek Tanjung Duren Kompol Zaky Nasution saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Sabtu (7/1/2017).

Zaky tak menyebutkan apa motif di balik pengeroyokan tersebut. Namun, kata dia, sebelum terjadi peristiwa itu antara korban dan salah seorang pelaku, I, sempat saling ejek.

Zaky tak memberikan informasi terkait bahan ejekan keduanya. Ada pun Widodo mengaku kenal dengan I karena bertetangga.

Setelah pengeroyokan tersebut, Widodo langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Wajah Widodo tampak babak belur dikeroyok 10 orang secara bersamaan.

Zaky belum bisa memastikan latar belakang dari 10 orang pelaku selain I yang merupakan tetangga Widodo.

“Sekarang sedang dikejar si I dulu karena sudah tahu wajahnya. Setelah itu baru pelaku lainnya,” kata dia.

 

(Kahfi Dirga Cahya/Tribunnews.com)

Sekretaris Dewan Syuro DPD FPI DKI Jakarta Novel Chaidir Hasan Bamukmin membantah tuduhan bahwa anggotanya mengeroyok kader pengurus ranting Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Widodo di Jelambar, Jakarta Barat.

“Tidak ada pengeroyokan yang ada satu lawan satu. Namanya M. Irfan, Qoid LPI (Laskar Pembela Islam) di Kecamatan Gropet (Grogol Petamburan). Ada saksi warga sekitar yang melihatnya,” kata Novel kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (7/1).

Novel mengatakan, perkelahian itu terjadi usai waktu Isya, Jumat (6/1) dan merupakan buntut dari insiden di siang hari saat rombongan calon wakil gubernur Jakarta Djarot Saiful Hidayat melewati tempat berkumpul anggota FPI di Jelambar.

“Kronologinya, kami kumpul di posko. Dia lewat mampir ke kami, tapi kami tidak mau. Kami bilang lewat saja Pak, tidak usah salaman apalagi mampir soalnya ada media. Takutnya nanti kami dibilang nyambut lagi. Lalu ada yang bilang haram, kubu dia malah bilang tidak haram. Spontan kami bangun semua,” kata Novel berdasarkan laporan dari anak buahnya bernama Hisam Ibnu yang berada di lokasi kejadian.

Widodo telah melapor ke Polres Jakarta Barat karena mengalami luka akibat diduga dikeroyok oleh sekelompok oknum FPI.

“Sekarang sedang kita tangani. Sementara ini divisum dan kemungkinan dirawat,” kata Kepala Polres Jakarta Barat Komisaris Besar Roycke Harry Langie dilansir dari detikcom.

Roycke mengatakan, peristiwa pengeroyokan yang diduga dilakukan hingga 10 orang itu terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Menurut Roycke, dari penyelidikan sementara terdapat dua terduga pelaku pengeroyokan yaitu pria berinisial I dan F.

“Sementara dari keterangan korban ini kemungkinan 7 sampai 10 (orang). Ada 2 saksi yang melihat kemungkinan pelaku sekitar 10 orang. Ini jadi atensi bagi kami untuk segera melakukan tindakan hukum. Segera ditangkap pelaku,” katanya.

Widodo mengalami luka di bagian mata dan di bagian kepala. Saat ini, dia menjalani perawatan di Rumah Sakit Royal Taruma, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. (rel)

 

 

Sumber