Ragam Berita

Priyatna Abdurrasjid saat diwawancara Historia di kantornya, di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 2012. Foto: Micha R Pali/Historia

DUA tahun lalu lelaki kelahiran Bandung 5 Desember 1929 itu berseloroh, melontarkan kekesalannya pada situasi sekarang. Dia mengeluhkan banyak orang yang memilih diam saat menyaksikan kejahatan yang terjadi di sekitarnya, terutama pada korupsi.

“Orang sekarang kebanyakan takut. Mau ini takut, mau itu takut,” ujar Priyatna Abdurrasyid ketika menerima Historia di kediamannya, bilangan Pondok Indah, Jakarta dua tahun silam.

Akibatnya, kata Priyatna, banyak orang cenderung diam terhadap kesalahan atau kejahatan yang dilihatnya. Langsung atau tidak, hal itu ikut membesarkan keadaan buruk hingga seperti sekarang. Korupsi dan perilaku korup bisa sampai membudaya seperti kini akibat banyaknya orang yang diam. Para pejabat yang seharusnya menjadi penindak, justru kongkalikong supaya kecipratan hasil curian yang mereka bilang rezeki.

Pengalaman hidup Priyatna sebagai jaksa, membuatnya paham betul seluk-beluk permainan culas yang melibatkan banyak pihak untuk menggarong duit negara. Semasa Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie melancarkan Operasi Budhi –yang kemudian dijadikan program nasional pemberantasan korupsi oleh KSAD AH Nasution– pada akhir 1950-an, Priyatna merupakan salah satu ujung tombaknya. Menurutnya, orang-orang di masa itu sangat berani.

“Kawilarang, Adjie, Mas Ton (HR Dharsono – Red.), Poniman, Kemal, berani-berani semuanya,” ujarnya kepada Historia.

Keterlibatan Priyatna dalam pemberantasan korupsi terjadi tak lama setelah kepidahan tugasnya dari Kejaksaan Negeri Palembang ke Kejaksaan Tinggi di Bandung. Kedekatannya dengan Adjie yang dikenalnya sejak zaman perang kemerdekaan di Bogor membuat dia dipercaya Adjie ikut menjalankan Operasi Budhi.

“Suatu hal yang sangat mengesankan di Bandung, ialah di sana saya dipercayai oleh Panglima untuk ikut aktif dalam pemberantasan korupsi,” kenangnya dalam otobiografinya yang ditulis Ramadhan KH, Dari Cilampeni ke New York Mengikuti Hati Nurani. H. Priyatna Abdurrasyid.

Kala itu, modus kejahatan korupsi sudah beragam bentuknya. Seingat Priyatna, mulai dari surat kaleng, penggelapan pajak oleh pengusaha, hingga korupsi aparat sipil maupun militer. Priyatna tak pernah lupa, di Bandung dia berhasil menangkap dan menyeret seorang pengusaha tekstil nakal bernama Jacob Van ke pengadilan. Setelah pengadilan menghukum Jacob dan menyita barang bukti, Priyatna menyumbangkan barang bukti itu ke Kostrad atas izin Jaksa Agung. Belakangan, Priyatna baru tahu kalau Jacob sahabat Pangkostrad Soeharto. Jauh setelah itu, Priyatna bertemu Jacob di Singapura. Jacob bilang dia sudah dikucilkan keluarga Soeharto karena ketahuan Ibu Tien menyembunyikan dua juta dolar keuntungan CV Waringin (perusahaan milik Jacob).

Dalam setahun, Siliwangi berhasil memejahijaukan beberapa perwira, memecat hingga memenjarakan banyak pejabat korup. Priyatna tak lupa suasana Hotel Telaga Sari, Bandung, tempat pemeriksaan dan penahanan pejabat korup, yang saat itu dipenuhi pejabat hingga menteri yang ditahan.

Keberhasilan Operasi Budhi menarik perhatian Jenderal Nasution, yang saat itu juga memimpin lembaga anti-korupsi bernama Paran (Panitia Retooling Aparatur Negara). Setelah berjalan kira-kira 18 bulan, Nasution, kala itu menjabat sebagai Menko Hankam/Kasab, menjadikan Operasi Budhi sebagai program di tingkat nasional.

Priyatna ikut bergabung di Paran, mewakili Kejaksaan RI. Sasaran yang menjadi target utama Operasi Budhi/Paran adalah perusahaan-perusahaan negara. Untuk itu, Nasution membentuk tim kecil yang terdiri dari orang beragam latar belakang guna menyusun pertanyaan pemeriksaan para pejabat perusahaan negara. Dalam waktu singkat, Operasi Budhi berhasil menyelamatkan uang negara sekira Rp11 milyar –sementara menurut Rosihan Anwar, jumlahnya 14 milyar.

Lelaki pemberani itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Via Historia

Suasana pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven), Padang, di awal abad ke-20. Foto: KITLV

PAGI, 9 Maret 2016, Nusantara merona ketika matahari menampakan korona di ufuk timur. Gerhana Matahari Total (GMT) terpancar di 12 daerah, tidak terkecuali Sumatera Barat. Mentawai menjadi daratan pertama yang dilintasi GMT. Pelbagai ritual dan pesta pun digelar.

Kendati demikian, Mentawai atau pun Padang tidak begitu menarik bagi para astronom mengamati dan menganalisa GMT yang menyembur pagi ini, Rabu (9/3). Mereka lebih memilih wilayah Timur Indonesia.

“Sepengetahuan saya nggak ada astronom ke Mentawai. Mungkin karena matahari terlalu rendah,” ujar astronom Avivah Yamani kemarin.

Kondisi ini kontras dibanding 115 tahun silam, persisnya 18 Mei 1901, di mana Padang dan Mentawai menjadi salah satu jalur yang dilewati GMT.

Berdasarkan catatan National Aeronautics and Space Administration (NASA), total durasi gerhana matahari saat itu, 6 menit 27 detik. Magnitudonya mencapai 1.034.

Selain Padang, GMT ini juga terlihat di Bukittinggi, Sawahlunto, dan beberapa daerah lain di Sumatra. Untuk Indonesia, GMT juga melintasi Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku. GMT juga melewati Mauritanius, Papua Nugini.

GMT di awal abad 20 tersebut, direspons para astronom dengan melakukan pengamatan dan penelitian. Padang menjadi salah satu tujuan utama untuk pengamatan.

James W. Gould dalam buku Americans in Sumatra mengatakan, Hindia Belanda diminati sebagai lokasi pengamatan gerhana pada 1901 karena aksesnya mudah. Sementara pilihan ke Sumatera karena dianggap lebih aman.

Alkisah, astronom Charles Dillon Perrine serta staffnya R.H Curtiss yang bekerja di Lick Observatory, University of California, memilih Padang sebagai tujuan untuk pengamatan GMT tahun 1901. Ia diberi amanah memimpin ekspedisi gerhana dari lembaga tersebut.

Perrine dan Curtiss bertolak dengan kapal dari San Fransisco pada tanggal 19 Februari 1901. Selama 45 hari mengarungi samudera dengan persinggahan di Honululu, Jepang, Hongkong, Singapura, Batavia, mereka akhirnya sampai di Pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven) tanggal 5 April.

Sejenak mereka berkeliling kota untuk melihat lokasi yang pas. Alhasil, gelanggang pacuan kuda di pinggir kota, sekitar Tunggul Hitam sekarang, mereka pilih sebagai tempat pengataman.

“Tempat pengamatan dibangun oleh tukang dengan konstruksi bambu dan atap ijuk. Bangunan itu dilengkapi gudang penampungan barang dan pagar,” cerita Perrine dalam The Popular Science Monthly yang terbit Agustus 1905.

Lelaki kelahiran Ohio, 28 Juli 1867 tersebut, juga menyewa penduduk setempat untuk  menjadi penjaga bangunan yang menyerupai perkemahan tersebut.

Perrine punya waktu sekitar enam minggu untuk persiapan sebelum GMT pancar pada 18 Mei. Selama itu pula, ia berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar, lalu mempersiapkan alat penunjang pengamatan seperti kamera dan teleskop.

Dari interaksi dengan penduduk sekitar, Perrine diberitahu bahwa lokasi kamp mereka tersebut  adalah tempat angker. Dengan informasi tersebut, Perrine pun mendapat jawaban dari aura ketakutan dari sang penjaga di hari pertama.

“Setelah menanyainya, diberitahu bahwa pacuan kuda itu angker. Bahwa tidak penduduk asli yang berani tinggal sendirian, karena sering mendengar suara-suara aneh di tengah malam,” kisah Perrine.

Namun Perrine dan Curtiss tidak bergeming. Begitu juga dengan sang penjaga. Hari-hari mereka pun lebih banyak di sana.

“Enam minggu sebelum gerhana kami sangat sibuk. Ada sepuluh teleskop

yang dipasang dan disesuaikan dengan pas. Pengamatan waktu sering dibuat, sembari melakukan percobaan untuk menentukan metode terbaik untuk mendokumentasikan gerhana dengan fotografi,” kata dia.

Sementara masyarakat pribumi, mengutip keterangan Perrine, awalnya merasa terganggu. Mereka berpikir sebagai orang asing, dengan ras hampir sama dengan Belanda, dianggap sebagai mata-mata.

Lambat laun, keberadaan mereka diterima terbuka. Apalagi bukan hanya Perrine dan Curtiss, para astronom asing pun semakin ramai menjejali Padang.

Menurut Perrine, kehadiran banyak astronom berdampak pada sambutan masyarakat. Kecurigaan tidak lagi terpapar. Bahkan, masyarakat pun sudah paham, bahwa orang-orang tersebut sedang mengamati gerhana matahari yang muncul sempurna di Padang.

Namun, masyarakat juga semakin liar dalam menafsirkan keberadaan para peneliti tersebut. Jika persiapan menyambut gerhana tidak lagi dicurigai, dikatakan Perrine, masalah lanjutan timbul, ketika sebagian masyarakat mengira para peneliti tersebut juga pandai meramal.

“Jika kami bisa meramal peristiwa seperti kejadian saat gerhana nanti, kita akan dikultus manusia setengah dewa,” ujar Perrine.

Mengenai apa yang akan terjadi ketika gerhana terus menjadi pertanyaan penduduk setempat. Dikatakan Perrine, astronom yang ada di Padang coba menjelaskan secara ilmiah dengan menyebutkan komet besar muncul sesaat sebelum gerhana.

Sontak, iman penduduk goncang, membayangkan kejadian yang mengerikan seperti kiamat. Muncul rumor, sebut Perrine, bahwa kamp mereka akan dihancurkan.

“Aku tidak tahu bahwa ada bahaya nyata, tetapi kepolisian waspada hingga gerhana itu selesai,” ujarnya.

Seminggu jelang gerhana, semua persiapan dimatangkan. Perrine mengatakan, persiapan juga dibantu oleh orang Belanda. Instrumen yang dibutuhkan untuk pengamatan juga disiapkan.

“Terus belajar mengoperasikan kamera teruma untuk menangkap dengan cahaya dan kecepatan tinggi,” bilangnya.

Hari yang ditunggu tiba. Namun, Padang dibaluti awan yang sedikit menutupi cahaya matahari selama total.

Meski berawan, dikatakan Perrine, pengamatan berjalan sukses dan menghasilkan informasi yang sangat penting. Hal ini karena durasi totalnya lumayan lama, 6 menit 50 detik.

Perrine mengatakan, tiga set kamera yang dirancang khusus untuk merekam berhasil mengabadikan korona dalam, tengah, dan luar.

“Foto korona skala besar tersebut menunjukan kekhasan,” tukasnya.

Durasinya yang lama, dimaksimalkan astronom untuk mencari lebih banyak lagi planet antara mercuri dengan matahari. Empat kamera dengan lensa panjang difokuskan untuk pencarian tersebut.

Selama itu pula, Perrine dan Curtiss merekam pergerakan matahari dengan alat fotografi. Ia menyebutkan untuk melihat pergerakan matahari menjadi total mesti menggunakan alat seperti teleskop dan kamera dengan lensa panjang.

Jika hanya dengan mata telanjang, hanya tampak samar-samar matahari seperti cincin, tanpa struktur apa pun.

Akan tetapi yang terpenting, kata Perrine, dengan berlalunya bayangan gerhana matahari total dan kembali normal, telah meredupkan paradigma tahayul yang masih menggelayuti sebagian diri masyarakat.

Selain astronom, dikatakan Perrine, banyak pelancong yang datang ke Hindia-Belanda untuk menyaksikan fenomena GMT. Sebagaimana orang asing masuk, mereka pun mengikuti prosedur seperti membubuhkan stempel kedatangan dan membayar uang masuk.

Pemerintah kolonial dibuat sibuk. Namun dengan administrasi demikian, cerita Perrine,  orang asing dan wisatawan yang datang menjadi terdata.

Selain ke Padang, tujuan sebagian para peneliti dan juga wisatawan di Sumatera Barat adalah Bukittinggi (Fort de Kock) dan Sawahlunto.

Jika Padang diselimuti awan saat proses gerhana total, lain Bukittinggi. Masih dalam bukunya, Americans in Sumatra, Gould mengatakan pemandangan gerhana di Bukittinggi sangat bagus karena cuaca cerah. Beruntung bagi rombongan astronom Angkatan Laut Amerika Serikat karena memilih kota tersebut.

Ternyata para astronom Angkatan Laut Amerika Serikat tersebut berangkat ke Padang dengan USS General Alava (AG-5). Kapal buatan tahun 1895 tersebut berlabuh di Teluk Bayur.

Menurut Perrine, selama persiapan gerhana,  sejumlah hiburan disajikan untuk petugas dan para astronom.

Ia sendiri sempat menghadiri pesta perpisahan yang dilangsungkan Konsul Amerika. Tarian dan minuman menjadi pelepas dahaga setelah berminggu-minggu di Padang berkutat dengan teleskop.

Setelah melakukan tugas mengamati GMT, Perrine cukup lama di Padang. Ia menghabiskan waktu jalan-jalan, mengamati kehidupan dan kebudayaan warga Padang. Ia juga sempat ke pedalaman Minangkabau.

Perrine meninggal 21 Juni 1951. Ia bekerja di Lick Observatory selama 16 tahun, dari 1893-1909. Setelah itu, pemenang Lalande Prize tahun 1897 ini kemudian menjadi Direktur Argentine National Observatory hingga tahun 1936.

Via Historia

Ledakan bom atom di atas Nagasaki, Jepang, 9 Agustus 1945. Foto: Nagasaki Atomic Bomb/EPA.

Amerika Serikat dan Tiongkok bantu Indonesia mengembangkan nuklir. Rencana ujicoba bom atom malah membuat dunia kalangkabut.

PADA 15 November 1964, Direktur Pengadaan Senjata Angkatan Darat Brigjen Hartono mengumumkan Indonesia akan mengujicoba bom atom pada 1969. Dia mengatakan sekira 200 ilmuwan sedang bekerja memproduksi bom atom tersebut.

Menyusul kemudian pada 24 Juli 1965 Presiden Sukarno mengumumkan, “Sudah kehendak Tuhan, Indonesia akan segera memproduksi bom atomnya sendiri,” ujarnya sebagaimana dikutip Robert M. Cornejo dalam “When Sukarno Sought the Bomb: Indonesian Nuclear Aspirations in the Mid-1960s,” The Nonproliferation Review Vol. 7 tahun 2000. Bagi Sukarno, bom atom ditujukan untuk “menjaga kedaulatan dan menjaga tanah air.”

Publik internasional terhenyak. Negara-negara Barat dan sekutunya khawatir dan protes. Menteri Pertahanan Australia Shane Paltridge mengatakan, pernyataan Hartono tak boleh disepelekan. Wakil PM Malaysia Tun Abdul Razak, yang merasa sangat terancam, memerintahkan penyelidikan serius upaya Indonesia itu. AS gerah dengan ulah Indonesia itu, dan diplomat-diplomatnya di Jakarta mulai menyelidiki.

AS mendapat kesimpulan, kemampuan nuklir Indonesia belum mencukupi untuk memproduksi bom. Oleh karena itu, tulis Matthew Fuhrmann dalam Atomic Assistance: How ‘Atom for Peace’ Programs Cause Nuclear Insecurity, “meski ada keinginan (Indonesia membuat bom, red.) tersebut, AS tetap melanjutkan bantuannya kepada program nuklir Indonesia.” Pada September 1965, AS dan Indonesia kembali menandatangani perjanjian kerjasama nuklirnya.

Sebuah revisi atas perjanjian tahun 1960, di mana Indonesia harus mengizinkan reaktor nuklirnya diinspeksi IAEA, dimasukkan dalam perjanjian baru itu. Hal tersebut bertujuan untuk mengendalikan Indonesia yang dikhawatirkan tak mengembalikan uranium suplai dari AS dan menggunakannya untuk membuat bom.

Namun, prahara 1965 mengubah semuanya. Kekuasaan Sukarno terus melemah dan akhirnya jatuh. Pemerintahan Soeharto sama sekali tak tertarik mengembangkan bom nuklir. Perjanjian nuklir dengan AS yang dimiliki Indonesia sepenuhnya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, pertanian, dan pembangunan perekonomian.

Via Historia

Hiroshima luluhlantak akibat bom atom, 6 Agustus 1945. Foto: Nagasaki Atomic Bomb/EPA

UJICOBA bom hidrogen (termo nuklir) AS di Kepulauan Marshall (Pasifik) pada 1954, membuat Sukarno khawatir wilayah Indonesia timur terkena dampak radiasi. Dia lalu mencari ahli radiologi dalam negeri untuk melakukan penyelidikan. Sukarno mengeluarkan Keppres No 230/1954 tentang pembentukan Panitia Negara untuk Penjelidikan Radio-Aktivitet pada 23 November 1954. Panitia ini dipimpin ahli radiologi dalam negeri, G.A. Siwabessy, yang baru pulang studi di London.

Tim lalu bergerak dengan prioritas tempat-tempat yang berdekatan dengan Samudera Pasifik, seperti Manado, Ambon, dan Timor. Hasil penyelidikan tim menyimpulkan, Indonesia aman dari dampak ujicoba bom AS.

Selesai tugas itu, tim menyarankan kepada pemerintah agar menaruh perhatian lebih kepada pernukliran. Upaya tersebut menuai hasil. Pemerintah lalu membentuk Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA).

Siwabessy, yang dipercaya menjadi direktur jenderal LTA, lalu membuat blue print pengembangan nuklir nasional. Selain memberi beasiswa kepada anak bangsa ke berbagai negara untuk mempelajari nuklir, LTA aktif berkeliling untuk mempelajari nuklir. Berbagai kerjasama juga dijajaki, yang terpenting dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Kerjasama itu membuat Indonesia mendapatkan bantuan dari AS. Pada Juni 1960, Indonesia menandatangani kerjasama bilateral di bidang nuklir dengan AS di bawah program “Atom for Peace”. Selain memberi dukungan dana sebesar 350 ribu dolaruntuk pembangunan reaktor nuklir, dan 141 ribu dolar untuk riset pengembangan. AS juga mengirim tenaga ahlinya. Meski menuai pro-kontra, Indonesia berhasil membangun reaktor nuklir pertamanya, Triga-Mark II, pada April 1961.

Namun, kerjasama itu perlahan berubah bentuk seiring berubahnya hubungan Indonesia-AS. Kematian Presiden John F. Kennedy membuat hubungan Indonesia-AS tak lagi mesra. Sukarno makin lantang mengkampanyekan perlawanan terhadap neokolonialisme dan imperialisme yang ditopang negeri-negeri tua seperti AS.

Keberhasilan Tiongkok dalam ujicoba bom atom pertamanya pada 16 Oktober 1964 menginspirasi Sukarno untuk melakukan hal serupa. Menurut Sulfikar Amir dalam “The State and the Reactor: Nuclear Politics in Post-Suharto Indonesia,” dimuat jurnal Indonesia, ketertarikan Sukarno didorong oleh ancaman terhadap keamanan Indonesia setelah AS melancarkan Perang Vietnam dan Inggris menyokong pembentukan Federasi Malaysia. Selain itu, ini merupakan taktik Sukarno untuk memperoleh dukungan dari dua kubu politik dalam negeri yang terus berseteru, Angkatan Darat dan PKI.

Sukarno lalu diam-diam mengirim ahli-ahli nuklir dan petinggi militer Indonesia ke Tiongkok untuk belajar membuat bom atom. Hal itu dia lakukan karena adanya perjanjian mengikat antara Indonesia dengan AS, yang tak membolehkan Indonesia berpaling dari AS dalam pengembangan nuklirnya. Amerika tak bisa menghentikan langkahnya kendati kemudian rencana besar itu redup seiring kejatuhan Sukarno pada 1965.

 

Via Historia

Orang Bugis, 1860. Litografi: KITV.

Panduan para lelaki untuk membahagiakan perempuan, baik di dalam maupun di luar kamar tidur.

PADA malam sebelum hari pernikahannya, Hariyadi menerima pertanyaan dari seorang tetua. “Kau sudah bisa mengelilingi dapur tujuh kali, kah?” Sambil berkelakar pemuda 28 tahun itu menjawab, “Jangankan tujuh kali, 20 kali dan angkat dapur pun bisa.” Maka mulailah ritual itu.

Hariyadi lantas digiring masuk ke kamar, berdua saja dengan tetua itu. Dalam tradisi di Luwu, Sulawesi Selatan, adegan itu dikenal dengan nama makkandre guru (belajar). Si calon pengantin akan diberi wejangan tentang bagaimana menggauli, memperlakukan, dan merawat istrinya.

Dapur adalah kiasan untuk perempuan. Artinya seorang laki-laki harus benar-benar mengenal perempuan (istrinya). Mengetahui lekuk dan seluk beluk, sebagaimana mengetahui dapur sebagai tempat menyimpan makanan, dan salah satu sumber kehidupan. Dalam ritual makkandre guru calon pengantin pria tak hanya dinasihati bagaimana membahagiakan istri di ranjang namun juga bagaimana memperlakukan istri dengan cara layak dan terhormat.

Filolog Universitas Hasanuddin Makassar, Muhlis Hadrawi, yang juga menulis buku Assiklaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis, mengatakan jika sejak masa lalu perempuan menjadi simbol kewibawaan yang harus mendapat perhatian lebih. “Di Bugis, perempuan itu adalah makhluk yang mulia,” katanya.

Sejak 1997 Muhlis telah mengumpulkan sebanyak 49 manuskrip kerajaan dan catatan dari lontara Bugis dan Makassar perihal seksualitas. Menurut Muhlis Assikalibineng tidak seperti kitab persetebuhan yang lain, yang hanya menampilkan erotisme dan sensualitas. Kitab ini menekankan pula pentingnya laku serta tata cara yang berlandaskan rasa saling menghargai.

“Di Assikalaibineng, tidak dibolehkan seorang laki-laki membangunkan sang istri untuk melakukan hubungan seksual, apalagi bila istri sedang capek,” katanya. “Itu sama saja menjadikan perempuan sebagai budak.”

Assikalaibeng diciptakan sebagai pegangan laki-laki, untuk membahagiakan perempuan. Dalam Assiklaibineng perempuan digambarkan lebih detail hingga bagian tubuh yang tersembunyi. Misalkan, dalam Serat Centini di Jawa atau pun Kamasutra dari India, menyebut klitoris hanya sekali itu saja. Sementara di Assikalaibineng, klitoris disebutkan hingga bagian paling dalam, sampai empat bagian.

“Bayangkan, Assikalaibineng sudah menjelaskan bagaimana foreplay, untuk mencapai klimaks secara bersama,” kata Muhlis. “Jadi kemudian bila ada laki-laki yang lebih duluan klimaks dibandingkan perempuan, maka hubungan itu dianggap gagal.”

Tak hanya itu, masyarakat Bugis pun tak membenarkan seorang lelaki, memberikan punggung atau pindah kamar tidur saat selesai berhubungan seks dengan istri. Melainkan, harus tidur bersama dan saling berpelukan.

Meski demikian, Assikalaibineng adalah kitab yang menjelaskan seks dan hubungannya dengan Islam, dimana semua diawali dengan basmallah dan wudhu. “Jadi Assikalaibineng menuliskan, bila ingin berhubungan dengan istri, sebaiknya dilakukan setelah salat isya, agar tidak merusak wudhu dan memiliki waktu yang lebih lama sebelum mencapai waktu subuh,” kata Muhlis.

Menurut Muhlis, Assiklaibineng ditulis atau buah pikiran dari Syech Yusuf. Kemudian, pengetahuan-pengetahuan itu terus bertambah dan mengalami reproduksi. “Dari puluhan manuskrip yang saya kumpulkan, semua tak sama persis. Selalu ada penambahan dan improvisasi dalam memandang (hubungan),” katanya.

Sebelumnya pengetahuan akan seksualitas disebarkan melalui bahasa tutur. Dilakukan secara hati-hati dan dikhususkan pada pasangan yang akan menikah. Dalam lontara terdapat larangan pernikahan sesama jenis (homoseksual). Hukuman bagi mereka yang melakukan homoseksual adalah pengusiran keluar kampung atau bahkan ditenggelamkan di lautan. Homoseksual dianggap sama dengan perzinahan.

Dalam catatan sejarah, pengusiran juga dilakukan kepada seorang yang hanya memburu kepuasan. Seperti yang pernah terjadi di Bellawa, sebuah kerajaan kecil dalam wilayah Wajo. Dikisahkah tentang seorang raja bernama La Malloroseng membangun rumah di sisi jalan yang hendak ke pasar untuk memantau perempuan yang disenangi untuk ditidurinya. Rakyat yang gusar mengusir sang raja keluar kampung dan membakar rumahnya. Dia pun diberi gelar anumerta Petta Masuange (Tuan Mesum).

Kejadian serupa juga pernah menimpa Raja Bone La Icca. Lontara meriwayatkan sang raja selalu merebut istri orang hanya untuk kepuasannya. Rakyat marah dan menumbuk tubuhnya di bawah tangga istana sampai mati. Maka diberilah raja naas itu mendapat gelar anumerta La Icca Matinroe ri Adengenna (Raja yang tidur di bawah tangga). “Kenapa dia mati ditumbuk, supaya darahnya tidak mengotori tanah,” pungkas Muhlis.

Via Historia

Sir Richard Francis Burton (1821-1890), penerjemah pertama Kamasutra, dengan latarbelakang pahatan-pahatan patung eksotis di kuil Khajuraho, India. Ilustrasi: Micha Rainer Pali.

KUIL-kuil di Khajuraho, suatu desa di India bagian Madhya Pradesh, tersohor dengan pahatan-pahatan patungnya yang bermuatan eksotis. Begitu pula relief di candi Hindu dari abad ke-10, Muktesvara Deula di Orissa, India. Indonesia juga punya: Candi Sukuh di Jawa Tengah, juga dari masa Hindu.

Seni pahat ini punya alasan tertentu. Filosofinya, alamiah dan lazim bagi seseorang untuk menjalani kehidupan penuh kama atau gairah cinta. Tapi dia akan jadi objek yang terkekang bila tak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya. Mengutip apa yang diutarakan Vatsyayana dalam Kamasutra: “Dapat dilihat bahwa mereka yang terlalu menyerahkan diri pada kehidupan seksual yang berlebih-lebih, sesungguhnya mereka memusnahkan diri mereka sendiri.”

“Itulah makna arsitektur dari kuil di Khajuraho, perlambang yang menunjukkan seni eksotis hanya terletak di bagian luar dari kuil, tempat pahatan-pahatan ini jauh dari kuil dalam dan patung-patung dewata suci Hindu,” kata L.G. Saraswati Dewi, dosen filsafat Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Agama Hindu dalam kuliah umum “Erotika dari Timur: Kamasutra” di Komunitas Salihara, Jakarta, 3 Maret 2012.

Melalui struktur kuil itulah manusia harus menghargai kehidupan seksual sebagai babak hidup yang alamiah. Namun, untuk mencapai spiritualitas yang lebih superior, dia harus belajar mengendalikan dan pada akhirnya melepaskan diri dari kepuasaan yang sementara di dunia.

Tak hanya tercermin dari relief candi. Kebudayaan Hindu yang kaya erotisme dan seksualitas juga terdapat dalam teks. Yang terkenal adalah Kamasutra karya Vatsyayana. Sedikit yang diketahui tentang Vatsyayana kecuali dia memulai sebuah tren –beberapa menyebutnya revolusi– ketika memutuskan untuk menulis risalah ilmiah (sutra) tentang keinginan seksual (kama).

Menurut Saraswati, ada kesalahpahaman yang mengganggap Kamasutra hanya menggambarkan secara dangkal nafsu manusia terhadap seks. “Nyatanya bila dipahami lebih mendalam, Kamasutra memberikan ilustrasi yang tidak saja indah tapi juga paparan filosofis yang substansial tentang kondisi alamiah manusia.”

Kamasutra dapat diartikan sebagai ajaran-ajaran (sutra) mengenai cinta (kama). Dalam ajaran agama Hindu, Kamasutra dihormati sebagai salah satu dari Veda Smrti. Artinya, di dalamnya memuat kebijaksanaan dari Veda sebagai kitab suci agama Hindu.

Kamasutra dipandang umat Hindu sebagai kitab penting untuk memandu kehidupan etis manusia. Teks ini mendeskripsikan dengan indah proses keintiman sepasang manusia. Mengapa Kamasutra disanjung sebagai pedoman dalam mencapai kebahagiaan? “Garis besar keyakinan dari agama Hindu adalah cinta,” tandas Saraswati. “Hinduisme meyakini bahwa proses keintiman mencitrakan eksistensi manusia yang tinggi.”

Bagian filosofis dari Kamasutra terletak di bagian pengantar atau bab kedua. Pada bagian ini Vatsyayana mengutip Veda, yaitu dalam hubungannya dengan Catur Purusarthas atau Empat Tujuan Hidup, pandangan hidup umat Hindu yang mengidealkan tahapan hidup yang seimbang. Catur Purusarthas terdiri dari dharma atau kebaikan, artha atau kesejahteraan material, kama atau cinta dan kepuasan indrawi, dan moksha atau pembebasan diri menuju Tuhan. Vatsyayana menulis: “Dharma lebih baik dari artha, sedangkan artha lebih baik dari kama.Vatsyayana menekankan bahwa kebaikan dan kebijaksanaan adalah pencapaian tertinggi bila dibandingkan kekayaan dan cinta.

Kemudian apa substansi aktivitas kama, bila tujuan utama dari manusia adalah dharma? Vatsyayana berargumentasi, dalam realitasnya manusia diberikan kemampuan dan keistimewaan untuk merasakan dan mengkontemplasikan kenikmatan. “Seksualitas adalah esensial dalam keberlangsungan hidup manusia,” kata Vatsyayana.

Vatsyayana menggarisbawahi bahwa segala kepuasan itu adalah tahap dalam kehidupan seseorang; kama bukanlah tahap final. Pemahaman ini lahir karena konsep dukkha, bahwa segala kenikmatan dapat menyebabkan kesengsaraan. Kesadaran bahwa kenikmatan itu sementara dan semata-mata satu babak singkat dalam kehidupan manusia akan mencerahkan dan mendorong manusia mencari kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Kamasutra dari Vatsyayana dikenal sebagai salah satu saja dari rangkaian Kama Shastra. Di India, dikenal bermacam kitab atau teks yang memuat topik seksualitas dari berbagai penulis. “Kedudukan teks-teks ini Smrti (tafsir) bukan Sruti (wahyu),” kata Saraswati.

Kamasutra Vatsyayana terkenal di dunia karena menggabungkan aturan-aturan relasi intim antara perempuan dan laki-laki dengan bahasa Sanskerta yang sederhana. Berbeda di zamannya ketika aporisme teks-teks sarat akan metafora dan analogi, Vatsayayana menginginkan karyanya jelas dan mampu dicerna siapapun. Kamasutra diduga dikompilasikan Vatsyayana pada abad ke-2 M. Teks ini terdiri dari 1.250 penggalan aporisme, dibagi menjadi 7 bagian besar, dan 7 bab tersebut terdiri atas 36 subbab.

Dalam sejarah Barat, teks Kamasutra baru dikenal pada 1883. Seorang penjelajah dan penulis Sir Richard Francis Burton (1821-1890) tertarik dengan karya-karya bermuatan seksualitas. “Meski dengan keterbatasan penerjemahan,” kata Saraswati, “Burton adalah orang pertama yang menterjemahkan Kama Sutra ke dalam bahasa Inggris.”

Sebenarnya Burton hanyalah editor yang melengkapi hasil terjemahan dengan catatan kaki. Penerbitnya, Kama Shastra Society, dia bentuk bersama seorang pegawai negeri India, Forster Fitzgerald Arbuthnot. Sedangkan penerjemahannya dari bahasa Sanskerta dikerjakan oleh perintis arkeologi India Bhagwanlal Indraji, dibantu seorang mahasiswa, Shivaram Parshuram Bhide, di bawah arahan Arbuthnot.

Menurut Saraswati, kecenderungan orang yang tak sungguh-sungguh memahami teks Kamasutra akan mengklasifikasikan buku ini sebagai teks pornografi. “Salah satu yang menyebabkan populernya stigma porno ini disebabkan terjemahan yang tak memadai,” tegas Saraswati.

Para peneliti studi Sanskerta menuding Sir Richard Francis Burton tak menjabarkan teks Kamasutra secara koheren. Kebudayaan populer pun lebih kerap mengeksploitasi bagian-bagian dari Kamasutra yang menjelaskan tahap-tahap erotis dari hubungan seksual dibandingkan kebijaksanaan Catur Purusarthas.

Via Historia

Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia. Ilustrasi: Micha Rainer Pali.

SERAT Centhini, yang dianggap karya terbesar dan terindah dalam kesusastraan Jawa, ditulis pada abad ke-19. Dia lahir dari rahim keraton Solo. Pangeran Adipati Anom, seorang putra Susuhunan Pakubuwana IV, menginginkan pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa dikumpulkan. Tiga pujangga keraton ditunjuk untuk membantunya.

Kerja keempatnya menghasilkan karya setebal 4.000 halaman lebih yang terbagi atas selusin jilid. Beberapa jilid di antaranya memuat ajaran erotika yang dibalut dengan mistisisme Islam dan Jawa. Inilah yang menarik minat Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia. “Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik,” katanya dalam kuliah umum “Erotika Nusantara: Serat Centhini” di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret 2012.

Dalam Centhini, seks tak diartikan hanya sebagai pertemuan dua alat kelamin manusia. “Kalau cuma bersetubuh, nanti lama-lama bisa busuk,” tandas Inandiak.

Lebih dari itu, seks dapat berarti puncak erotika. Dalam menjelaskan arti erotika, Inandiak tak hanya menjabarkannya dari istilah Barat, tapi juga mencoba menggalinya dari khazanah istilah lokal. “Kenapa kita harus meminjam istilah dari bahasa-bahasa Barat?” tanya Inandiak dalam makalahnya, “Dari Erotika ke Sir Centhini”. Erotika berasal dari kata Yunani, eros, yang berarti dewa asmara. Kata ini dipakai untuk menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan syahwat, hawa, nafsu, atau kebirahian.

Padanan kata ini, menurut Inandiak, dapat ditemukan dalam Centhini. Beberapa kata yang berkelindan dengan erotika misalnya ajigineng, terangsang, nafsu berahi, cinta syahwati, asmaragama (seni bercinta), kasmaran, naluri seksual, pengumbaran nafsu, dan mabuk kepayang. Masyarakat Jawa telah mempunyai konsep dan kata mengenai erotika. Dengan demikian, erotika tidak sepenuhnya datang dari Barat.

Sejak 1990-an, Elizabeth menerjemahkan Centhini ke dalam bahasa Prancis. Buku sadurannya dalam bahasa Indonesia, Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi, baru terbit pada 2008. Penerjemahan Serat Centhini itu tak mudah, Inandiak mesti menghadapi dua pendapat ekstrem para ahli sastra Jawa. Satu kelompok berpendapat Serat Centhini terlalu kotor untuk diterjemahkan karena memuat ajaran dan kata-kata kotor, cabul, dan kasar. Di kutub lain, para ahli menilai Serat Centhini sangat adiluhung sehingga tak bisa diterjemahkan. Kalaupun diterjemahkan, nilai estetis Centhini akan berkurang. Kedua pendapat itulah yang menyebabkan Serat Centhini tak diterjemahkan selama hampir satu abad. Tapi Inandiak tetap berkeras menerjemahkannya karena menganggap karya ini sangat penting untuk mengungkap dunia tersembunyi orang Jawa.

Beberapa jilid Serat Centhini memang memuat ajaran-ajaran kotor dan cabul. Penuh adegan persanggamaan dan pelepasan hasrat seksual yang tak terbatas suami dan istri tapi juga di luar pernikahan. Petualangan Cebolang, remaja yang lari dari rumah orangtuanya karena menilai dirinya berdosa besar, menjadi simbolisasinya.

Dalam pelariannya, dia bersanggama dengan orang yang berbeda, tak peduli laki atau perempuan, di banyak tempat. Perbuatannya itu tak lain untuk menebus dosa-dosanya. Cebolang menganggap hanya dengan menceburkan diri ke perbuatan yang hina kesalahannya diampuni. Ketika sampai di Mataram (Yogyakarta), Cebolang, bersama kawan lelakinya, Nurwitri, menyetubuhi dua perempuan secara bergantian di area pesantren. Subuh tiba, mereka berhenti, lalu mandi untuk menunaikan salat subuh di masjid.

“Ini menarik. Kalau terjadi di klub seks bebas, itu bukan erotika. Tapi, ini terjadi di pesantren sehingga erotikanya sangat tinggi. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi dalam kisah itu,” terang Inandiak.

Tapi, Inandiak mengingatkan bahwa kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden. “Pembacaan Serat Centhini sejatinya memang ditembangkan,” tandasnya. Dengan demikian, para pembaca tak tenggelam ke lautan kata-kata kotor dan cabul sehingga keindahan erotika Serat Centhini tetap dapat ditangkap.

Kisah asmara paling halus dalam Serat Centhini tak pelak menjadi milik pasangan Amongraga dan Tembangraras. Amongraga, putra mahkota Sunan Giri, duduk berhadapan dengan Tambangraras, istrinya, di kamar pengantin pada malam pertama pernikahannya. Amongraga berada di buritan ranjang pengantin, sedangkan Tambangraras duduk di haluan. Jarak antara keduanya cukup jauh. Riuh-rendah tetamu yang masih berpesta dan mabuk di luar kamar masih terdengar, sedangkan suasana di dalam kamar sangat tenang dan damai.

Amongraga tak lantas bersanggama dengan istrinya. Dan terus begitu hingga malam keempat puluh. Selama itu, Amongraga mengajarkan sejumlah rahasia kepada istrinya agar persanggamaan mereka mencapai penyatuan sejati. Sebelum tibanya malam itu, keduanya hanya saling menatap dan berbicara.

Mereka bertelanjang secara bertahap sesuai dengan tingkatan mistiknya. “Semakin tinggi tingkatan mistiknya, semakin tinggi pulalah ketelanjangannya,” kata Inandiak.

Tingkatan mistik tercapai berkat ajaran-ajaran Amongraga yang diambil dari mistisisme Islam dan asmaragama (seni bercinta Jawa). Ajaran Islamnya bersumber dari buah pikir sufi Timur Tengah seperti Al-Jili, Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghazali, dan Rumi. Sedangkan ajaran asmaragama bersumber dari tradisi tantrisme dan falsafah Jawa Kuno. Karena asmaragama, banyak yang menganggap Serat Centhini sebagai Kamasutra Jawa. “Memang ada yang menyebut seperti itu, tapi saya kira Centhini bercerita tentang banyak hal. Lebih luas daripada Kamasutra,” katanya.

Amongraga menyadari sepenuhnya apa yang diajarkannya selama empat puluh malam, pun jua dengan Tambangraras. Jiwa mereka terbakar dalam api asmara. Dan mencapai puncaknya pada malam keempatpuluh. Saat itulah, mereka menyatukan tubuh. Tak ada laki-laki, tak ada perempuan. Manunggal. Demikianlah puncak erotika. Inandiak menyebut itu sebagai paduan sir (nafsu dalam bahasa Jawa) dan sir (rahasia dalam bahasa Arab). “Nafsu yang mengangkat asmaragama ke alam gaib (rahasia),” tulis Inandiak. Sesuatu yang menurut Inandiak menjadi padanan kata paling tepat untuk erotika dan tidak ditemukan dalam alam pikiran orang Barat melalui pembacaannya terhadap karya sastra mereka.

“Sepanjang pengetahuan saya, mudah-mudahan saya salah, tak ada kesusastraan Eropa yang menggabungkan seks dan mistik seperti ini,” kata Inandiak menutup diskusi.

Via Historia

Illustrasi

SEKSUALITAS menjadi bagian dari setiap fase kehidupan manusia. Di sejumlah daerah di Indonesia, ada proses inisiasi bagi remaja lelaki maupun perempuan sebelum memasuki jenjang perkawinan. Ini menjadi bagian dari proses pendewasaan diri, yang punya makna religi atau berkaitan dengan dunia gaib.

Dalam tradisi Islam, sunatan merupakan bagian dari ritual inisiasi bagi remaja lelaki maupun perempuan untuk menapak jenjang kedewasaan. Di sejumlah daerah di Indonesia, juga negara lain, sunat juga dilakukan terhadap perempuan dengan alasan yang tak masuk akal: mengurangi libido dan menjauhkan perempuan dari perzinahan –sekalipun sejak 2006 Departemen Kesehatan sudah melarangnya.

Praktik sunat juga hidup pada tradisi masyarakat Atoni Pah Meto dan Ema Belu (Orang Belu), dua suku besar di Timor Barat. Ia dilakukan secara turun-temurun. Biasanya seorang pria yang melewati masa akil balik disunat dengan alat sederhana: pisau dan penjepit dari belahan bambu. Tujuannya, selain untuk memasuki alam kedewasaan, juga untuk kepuasan seksual. Usai disunat, ketika luka belum sembuh, dia diwajibkan melakukan hubungan seks dengan perempuan untuk membuang “panas” (sial, penyakit) sekaligus menguji potensi seksualnya. Ironisnya, perempuan yang dijadikan “tempat pembuangan” kemudian malah dikucilkan masyarakatnya sendiri. Ada bias gender dalam praktik semacam ini.

Di tempat lain, ritual inisiasi juga berfungsi sebagai perantara dengan dunia arwah. Di Maluku, upacara sakral pendewasaan diri mengharuskan remaja laki-laki digauli oleh “dukun”, yang juga laki-laki, sebelum mengarungi bahtera perkawinan. Di Papua, seorang anak laki-laki yang beranjak dewasa harus melalui ritual berhubungan fisik dengan laki-laki yang lebih tua. Dipercaya “asupan kekuatan” dari laki-laki dewasa itu akan membantu si remaja tumbuh menjadi pria yang maskulin. Gilbert H. Herd dalam bukunya Ritualized Homosexuality in Melanesia mengatakan bahwa upacara homoseksual ini ditemukan pada beberapa suku di pantai selatan Papua antara Pantai Kasuari, di kabupaten Asmat, Kolepom, Marind-Anim, juga beberapa tempat di Sungai Fly, Papua Nugini.

Sementara bagi perempuan di suku Kelepom, Papua, yang memasuki masa puber melakukan hubungan seks secara heteroseksual dengan lelaki yang sudah menikah. Ia menjadi suatu pelengkap dalam upacara inisiasi untuk membuktikan masa kedewasaan perempuan.

Ketika ritual inisiasi dilangsungkan, seorang lelaki atau perempuan dianggap sudah menjadi bagian dari masyarakat yang siap memegang tanggung jawab dan menikah. Di sejumlah daerah, ritual pernikahan ini melibatkan bukan hanya aktivitas heteroseksual tapi juga homoseksual.

Adat lama perkawinan di Ponorogo menghidupkan tradisi gemblak. Setelah resepsi perkawinan, mempelai perempuan tidur dengan keluarganya. Maklum, mereka kawin karena perjodohan orangtua sehingga belum saling kenal. Untuk menemani pengantin lelaki, pihak mempelai perempuan menyediakan gemblak. Kedua mempelai baru berkumpul setelah beberapa malam. Gemblak adalah lelaki muda yang menjadi peliharaan dan pelampias hasrat seksual seorang warok karena tak boleh berhubungan seks dengan perempuan.

Jan Boelaars dalam bukunya Manusia Irian menulis bahwa orang-orang suku Marind lebih menyukai bentuk hubungan homoseksual dan di malam pertama perkawinan mereka akan ditemani rekan (pria) satu sukunya. Ini diakibatkan, karena orang-orang Marind menyadari kekuatan ekonomis dan sosial perempuan, terjadi semacam kompleks kastarasi yang menyebabkan orang-orang Marind tak bisa “menyerahkan” diri sepenuhnya kepada seorang perempuan.

Persetubuhan heteroseksual sebelum menikah juga merupakan bagian dari upacara adat dalam kebudayaan Papua, terutama di kalangan orang Purari, Kiwai, Marind, Kolepom, dan Asmat. Di kalangan orang Marind, misalnya, persetubuhan ditegaskan untuk menghasilkan cairan seksual guna meningkatkan kesuburan, mempersiapkan diri sebelum memasuki kehidupan perkawinan (konsep kedewasaan), membuka kebun, awal kegiatan pengayauan, keseimbangan lingkunggan, pengobatan, kekuatan magi, dan kepemimpinan. Ia mempunyai makna untuk menata kehidupan warganya.

Menurut A.E. Dumatubun dalam “Pengetahuan, Perilaku Seksual Suku Bangsa Marind-Anim” yang dimuat di Jurnal Antropologi Papua, April 2003, dasar utama dari berbagai aktivitas seksual, baik secara homoseksual maupun heteroseksual, di kalangan suku Marind-Anim itu berlandaskan pada konsep “kebudayaan semen“ atau “kebudayaan sperma”. Sperma merupakan kekuatan yang diperoleh dari seorang pria yang perkasa dan kuat. Sperma berhubungan dengan konsep kesuburan, kecantikan, kekuatan penyembuhan, dan kekuatan mematikan. Sehingga di dalam aktivitas hidup suku Marind-Anim konsep sperma memainkan peranan penting.

Ketika sebagian masyarakat mempersoalkan tradisi semacam ini, layaklah apa yang ditulis Clifford Geertz dalam Tafsir Kebudayaan: manusia dengan kebudayaan ibarat binatang yang terperangkap dalam jerat-jerat makna yang dia tenun sendiri.

Via Historia

Peternak Madu di Bidara Yaman

Sudah bukan rahasia lagi republik yaman terkenal akan ragam jenis madu asli berkualitas berasal dari sumber madu terbaik dan dijamin bebas akan tambahan bahan kimia ini karena madu yaman masih diproduksi secara tradisional alias tidak menggunakan mesin jenis madunya beragam salah satunya yang terbaik ialah madu yang dihasilkan lebah penghisap bunga ceddar atau biasa disebut Bidara ,

Madu jenis ini hanya bisa dipanen satu atau dua kali selama satu tahun tak heran madu yaman bidara disebut sebagai salah satu madu yaman termahal didunia ,manfaat madu yaman selain untuk kesehatan bagi masyarakat yaman madu menjadi bagian dari tradisi budaya menjadi hantaran pernikahan dan hidangan wajib disetiap pesta adat

Mary-Phelps-Jacob

Sebelum pakai BH, cewek-cewek zaman dulu, terutama di dunia barat, banyak yang pakai korset. Selain buat nutupin dan menyangga payudara (karena mereka takut banget kalau payudaranya bakalan kendur), BH juga dipakai buat mendapatkan bentuk badan yang ideal dan sexy, seenggaknya, itu gambaran body ideal di zaman itu.

Status Sosial

Masih di zaman kuda gigit batu, pemakaian korset juga dianggap sebagai lambang status sosial, apalagi di kalangan pebisnis dan orang-orang kaya. Cewek-cewek yang gak pakai korset dianggap sebagai cewek-cewek kelas bawah, melarat, buruh bahkan pelacur, karena gak ‘mampu’ nutupin badan dan si ‘duo kesayangan’nya dengan betul. Intinya, korset dianggap kayak lambang kesopanan gitu deh.

Semakin beradabnya zaman, pemakaian korset mulai ditinggalin. Waktu itu, banyak ahli-ahli kesehatan yang bilang kalau keseringan pakai korset itu bisa bikin sakit, misalnya sesak napas, gangguan fungsi usus, ginekologi atau pingsan. Wajar aja sih, gimana mau napas kalau badan diiket-iket gitu. Korset juga mulai gak laku lagi karena cewek-cewek makin banyak aktivitas dan korset dirasa bikin mereka gak bisa bergerak bebas.

{source name="Rose juga pake korset" url="http://fanforum.com"}

Rose juga pake korset via fanforum.com

Sebetulnya sih, sebelum korset muncul, dari zaman Yunani kuno dulu, sudah ada pakaian yang mirip-mirip sama BH, cuma korset jauh lebih disukai. Karena perubahan zaman, pemikiran yang lebih maju, mode, dll, bikin semuanya ikut berubah.

Penemuan

BH jadi terkenal berkat seorang cewek, Mary Phelps Jacob. Cewek yang waktu itu baru berumur 19 taun ceritanya mau pergi ke pesta. Nah, dia merasa korset yang dia pakai, bikin gaunnya keliatan jadi gak OK lagi. Terus, dia sama pelayannya bikin penutup payudara dari dua saputangan yang dijahit, ditambah renda untuk pengikat.  Di pesta, teman-temannya si Mary takjub, kok, dia bisa dansa seluwes itu, padahal kan kalau pakai korset, bakal susah bergerak, jadilah dia menceritakan penemuan dia sama pelayannya tadi.

{source name="Sang penemu" url="http://imgarcade.com"}

Sang penemu via imgarcade.com

Dari mulut-mulut, Mary mulai kebanjiran pesanan. Mary Phelps Jacob mematenkan BH temuannya pada taun 1914, di Amerika Serikat. Setelah itu, BH mulai diproduksi besar-besaran dan dijual ke seluruh dunia.

Walaupun katanya sudah ada yang duluan mematenkan pakaian sejenis BH, tapi untuk BH modern, Mary Phelps Jacob dianggap sebagai pelopornya.

Nah itu dia gimana BH bisa muncul di dunia ini. Sekarnag sih kamu udah gak perlu susah-susah lagi cari BH, karena segala macam model dan kebutuhan bisa dengan mudah kamu dapatkan.

malesbanget.com